KALIMANTAN SELATAN — Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menyebut angka tersebut mencerminkan komitmen perusahaan memberikan nilai tambah bagi negara di tengah proses pemulihan produksi yang masih berjalan. Dari total setoran Rp 75 triliun sepanjang tahun ini, porsi yang masuk ke kas daerah mencapai Rp 13 triliun.
Daerah Penyangga Tambang Terima Jatah Rp 13 Triliun
Alokasi untuk daerah itu terbagi ke Pemerintah Kabupaten Mimika, Pemerintah Provinsi Papua Tengah, serta kabupaten lain di wilayah Papua Tengah. Tony menegaskan skema bagi hasil itu merupakan konsekuensi langsung dari operasional tambang bawah tanah terbesar di dunia yang dikelolanya.
"Dan saat nantinya kita mencapai kapasitas produksi 100 persen, maka kontribusi PTFI bagi negara akan mencapai lebih dari 100 triliun setiap tahunnya," ujar Tony dalam sambutan upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Mimika, Senin (17/8).
Pemulihan Pasca-Kebakaran Smelter Jadi Kunci
Proyeksi peningkatan setoran itu tidak lepas dari target perseroan mengejar kapasitas produksi penuh. Sebelumnya, operasional PTFI sempat terganggu akibat insiden kebakaran di area pengolahan yang memaksa perusahaan menurunkan volume output dan menunda sejumlah pengiriman konsentrat.
Tony menjelaskan perseroan kini terus mendorong percepatan pemulihan agar seluruh lini produksi kembali berjalan normal. "PTFI saat ini terus mendorong peningkatan kapasitas produksi hingga mencapai 100 persen. Peningkatan produksi tersebut diproyeksikan turut meningkatkan kontribusi perusahaan kepada negara dan daerah tempat perusahaan beroperasi," paparnya.
Kontribusi Freeport bagi Penerimaan Negara Bukan Sekadar Angka
Bagi pemerintah pusat, setoran PTFI menjadi salah satu penyumbang utama penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor minerba. Adapun bagi daerah, dana bagi hasil yang diterima Mimika dan Papua Tengah menjadi tulang punggung belanja infrastruktur dan pelayanan publik.
Jika target produksi penuh tercapai, tambahan Rp 25 triliun dari level saat ini akan menjadi suntikan likuiditas signifikan bagi APBN dan APBD di tengah tekanan fiskal akibat fluktuasi harga komoditas global. Investor pun memantau pemulihan operasional Freeport sebagai indikator pasokan tembaga dan emas dunia, mengingat tambang Grasberg merupakan salah satu cadangan terbesar secara global.
Kendati demikian, realisasi kontribusi tahunan tetap bergantung pada harga jual konsentrat di pasar internasional dan kurs rupiah. Fluktuasi dua variabel itu bisa mengubah nominal setoran meski volume produksi sudah pulih total.