BANJARMASIN — Pengasuh Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai, Tuan Guru Haji Muhammad Syaukani, mengingatkan kaum Muslim bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya menjadi momentum perbaikan diri, bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Pesan tersebut disampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Kalimantan Selatan, di hadapan ribuan jamaah yang memadati masjid kebanggaan warga Banua tersebut.
BANJARMASIN — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hendaknya dimaknai sebagai sarana introspeksi dan pembenahan perilaku, bukan hanya rutinitas seremonial yang dihelat setiap tahun. Hal ini ditegaskan oleh Tuan Guru Haji Muhammad Syaukani, pengasuh Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai, saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Dalam khutbah yang berlangsung sekitar lima menit itu, Tuan Guru yang akrab disapa dengan panggilan kiai sepuh ini menyebutkan bahwa rasa gembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah hal yang wajar bagi umat Islam. Kegembiraan tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan peringatan Maulid yang tersebar di sejumlah daerah.
Refleksi Kegembiraan dan Syukur atas Kelahiran Nabi
"Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW jangan hanya seremonial, tapi lebih dari itu, hendaknya untuk memperbaiki diri," ujar Tuan Guru HM Syaukani di hadapan jamaah sebelum pelaksanaan Shalat Jumat.
Menurutnya, peringatan Maulid merupakan bentuk refleksi kegembiraan dan rasa syukur atas kelahiran seorang Nabi besar yang menjadi junjungan umat Islam. "Saya kira wajar bagi kaum Muslim mensyukuri kelahiran seorang Nabi besar junjungan kita umat Islam dengan bergembira menggelar peringatan Maulid Beginda Rasulullah SAW," tuturnya.
Landasan Al-Qur'an tentang Keutamaan Rasulullah
Dalam khutbahnya, khatib yang juga pimpinan ponpes tertua di kawasan hulu sungai atau "Banua Anam" ini mengutip sejumlah ayat suci Al-Qur'an yang berkaitan dengan kelahiran dan keberadaan Nabi Muhammad SAW sebagai penghulu para rasul.
Beberapa ayat yang menjadi rujukan antara lain Surah Al Anbiya ayat 107 yang bermakna "Dan Kami (Allah) tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam". Ayat ini menegaskan posisi Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat yang dihadirkan untuk semesta alam.
Selain itu, Tuan Guru Syaukani juga mengutip Surah Yunus ayat 58 yang berisi perintah Allah SWT agar manusia bergembira atas karunia Islam dan rahmat-Nya berupa Al-Qur'an. "Sedangkan Islam dan Al-Qur'an hanya Allah wahyukan kepada Rasulullah SAW, manusia panutan paling sempurna," jelasnya.
Khatib juga menyampaikan penggalan Surah Al-Ahzab ayat 21 yang menjadi dasar utama dalam Islam, menegaskan bahwa diri Nabi Muhammad SAW merupakan teladan terbaik, pedoman hidup, dan tolok ukur perilaku bagi setiap Muslim dalam menghadapi segala situasi kehidupan.
Jamaah Padati Masjid Raya Sabilal Muhtadin
Pelaksanaan Shalat Jumat kali ini dipimpin oleh imam HM Abduh Amrie. Sementara itu, Gubernur Kalimantan Selatan H Muhidin yang biasanya berada di shaf terdepan tidak tampak hadir lantaran sedang berada di luar daerah.
Masjid Raya Sabilal Muhtadin sendiri merupakan salah satu masjid terbesar dan paling bersejarah di Kalimantan Selatan, menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi masyarakat Banjarmasin dan sekitarnya. Kehadiran Tuan Guru Syaukani sebagai khatib menjadi daya tarik tersendiri bagi jamaah yang ingin mendengarkan tausiyah langsung dari ulama kharismatik asal Kabupaten Hulu Sungai Utara tersebut.