Pencarian

Drone Turki Akinci Buru UAV China CH-95 di Langit Sudan, Perang Senyap yang Memakan Korban Sipil

Jumat, 21 Agustus 2026 • 14:25:02 WIB
Drone Turki Akinci Buru UAV China CH-95 di Langit Sudan, Perang Senyap yang Memakan Korban Sipil
Rekaman intersepsi memperlihatkan drone Bayraktar Ak?nc? milik Tentara Sudan mengejar UAV CH-95 yang dioperasikan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) di wilayah udara Sudan.

KALIMANTAN SELATAN — Pertempuran sengit di darat antara Tentara Sudan dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) ternyata diiringi perang udara senyap. Di langit Afrika, dua kelas drone berbeda dari Turki dan China saling berburu, memperebutkan kendali udara di tengah konflik yang jarang mendapat sorotan media internasional.

Sepanjang musim panas ini, drone Bayraktar Ak?nc? yang dioperasikan tentara Sudan berhasil mencegat beberapa unit CH-95 yang diterbangkan pihak RSF. Rekaman yang dibagikan akun Clash Report di X memperlihatkan momen intersepsi dari perspektif kamera Ak?nc?, sebelum akhirnya drone lawan hilang dari layar.

Duel Dua Kelas Drone yang Timpang

CH-95 adalah drone kelas menengah yang dirancang untuk misi pengintaian, perang elektronik, dan serangan. Bobotnya sekitar 650-1.000 kilogram dengan kapasitas muatan hingga 170 kilogram, mampu terbang lebih dari 12 jam di ketinggian di atas 7.000 meter.

Ak?nc? berada di kelas yang jauh lebih berat. Bobot lepas landas maksimumnya mencapai 6.000 kilogram dengan kapasitas muatan hingga 1.350 kilogram, serta endurance melebihi 24 jam. Ketinggian operasionalnya dilaporkan mencapai 13.700 meter dengan bentang sayap sekitar 20 meter.

Perbedaan kelas ini juga terlihat dari harganya. Ak?nc? diperkirakan menelan biaya sekitar USD 25 juta per unit, sementara CH-95 berdasarkan studi Air University dan catatan pembelian Serbia di SIPRI hanya sekitar USD 2 juta.

Korban Sipil Jadi Korban Utama Perang Drone

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia, Volker Türk, menyampaikan peringatan keras. "Armed drones have now become by far and away the leading cause of civilian deaths," ujarnya.

Data PBB mencatat serangan drone menyebabkan sedikitnya 880 kematian warga sipil antara Januari hingga April 2026. Angka tersebut mewakili lebih dari 80 persen dari total kematian warga sipil akibat konflik di Sudan.

Ak?nc? Punya Keunggulan Tempur Udara

Ak?nc? dilengkapi radar dan senjata udara-ke-udara, memungkinkannya menyerang pesawat lain tanpa bergantung pada pertahanan udara darat. Kemampuan ini menjadi krusial karena CH-95 dirancang untuk terbang lama mengumpulkan informasi di area luas.

Laporan sebelumnya pada Juli menyebutkan Ak?nc? menembakkan rudal udara ke CH-95 di barat laut El Obeid, Kordofan Utara. Operasi lain dilaporkan menghancurkan drone China kedua di darat, meski klaim ini belum dapat dikonfirmasi secara independen.

Rantai Pasokan Senjata Masih Simpang Siur

Penyelidik hak asasi manusia telah mendokumentasikan keberadaan peralatan China di antara persenjataan RSF. Sementara itu, tuduhan keterlibatan Uni Emirat Arab dalam jalur pasokan senjata masih diperdebatkan, dan UEA berulang kali membantah memberikan dukungan militer ke pihak mana pun.

Perang drone di Sudan ini menunjukkan bagaimana teknologi militer modern justru memperparah penderitaan warga sipil di zona konflik. Dengan harga satu unit Ak?nc? yang setara dua belas kali lipat drone lawan, biaya perang ini terbilang sangat mahal—baik secara finansial maupun kemanusiaan.

Follow halobanjarmasin.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: techradar.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks