BARITO KUALA — Perjalanan H. Zahruddinsyah menuju panggung politik tidak dimulai dari balik meja partai, melainkan dari timbangan sawit di Kecamatan Wanaraya. Sejak 2017, pria yang akrab disapa Haji Didin ini mengembangkan usaha di sektor perkebunan kelapa sawit dan menemukan banyak persoalan yang luput dari perhatian kebijakan.
Salah satu yang paling ia ingat adalah penggunaan timbangan dacing oleh masyarakat setempat. Kondisi itu mendorongnya membangun fasilitas timbangan digital untuk kendaraan pengangkut sawit agar transaksi lebih transparan.
“Waktu itu saya melihat di Wanaraya masih menggunakan timbangan dacing. Saya berpikir, sudah saatnya masyarakat mendapatkan fasilitas timbangan digital,” ujarnya saat ditemui di Desa Roham Raya, Kecamatan Wanaraya, Jumat (7/8/2026).
Dari Lahan Sawit ke Struktur Partai
Kegelisahan terhadap infrastruktur dan akses jalan yang menghambat aktivitas ekonomi petani membuat Haji Didin sadar bahwa penyelesaian tidak selalu bisa melalui jalur bisnis. Menurutnya, politik menjadi ruang untuk membawa aspirasi pelaku usaha dan petani ke dalam pembahasan kebijakan pemerintah.
“Kalau bukan pelakunya sendiri yang menyampaikan, suara para pebisnis sawit dan petani ini tidak akan terdengar. Karena itu, aspirasi mereka harus ada yang memperjuangkan,” katanya.
Kini, perhatiannya tidak lagi hanya pada sektor usaha. Ia mulai mengambil peran dalam memastikan struktur partai di Batola bergerak hingga ke tingkat bawah.
Target Satu Fraksi di DPRD Batola
Zahruddinsyah menyebut struktur Partai Demokrat saat ini sudah terbentuk di 17 kecamatan se-Kabupaten Barito Kuala. Baginya, struktur tersebut adalah modal utama untuk membangun kekuatan politik, tetapi tanpa militansi kader, target besar tidak akan tercapai.
“Kalau berbicara politik Demokrat di Batola, tentu cakupannya seluruh kabupaten. Kami di 17 kecamatan siap mencari suara sebanyak-banyaknya,” tegasnya.
Target itu sejalan dengan instruksi Ketua DPD Partai Demokrat Kalimantan Selatan, Rusli Rozano Zarwan, yang mendorong DPC Batola mampu membentuk satu fraksi di legislatif. Zahruddinsyah menilai target tersebut masuk akal jika kerja politik dilakukan secara terukur dan konsisten.
“Target realistis itu satu fraksi. Saya yakin kader-kader Demokrat ini sebenarnya militan. Tinggal bagaimana kami menggerakkan, memelihara, dan memperkuat soliditas di tingkat akar rumput,” ujarnya.
Membangun Kepercayaan Petani dan Kader
Pengalaman membangun fasilitas timbangan digital mengajarkan Haji Didin bahwa kepercayaan adalah kunci. Prinsip yang sama ia bawa ke dunia politik: kader harus hadir di tengah masyarakat, bukan hanya saat masa kampanye.
Ia menilai, persoalan petani seperti akses jalan usaha tani dan kepastian harga sawit hanya bisa diperjuangkan jika partai memiliki wakil yang cukup di parlemen. Karena itu, penguatan struktur di 17 kecamatan menjadi prioritasnya saat ini.
“Politik bukan sekadar perebutan kekuasaan. Politik harus menjadi jembatan bagi masyarakat untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi,” pungkasnya.