KALIMANTAN SELATAN — Kurang dari enam pekan menjelang debut iPhone 18 Pro dan iPhone lipat yang santer disebut "iPhone Ultra", Apple dilaporkan menghadapi hambatan serius di lini produksi. Analis semikonduktor Tim Culpan mengungkapkan bahwa pabrik TSMC saat ini menimbun wafer prosesor senilai sekitar USD 1 miliar (sekitar Rp 16 triliun) yang belum bisa dirakit karena modul DRAM yang dibutuhkan belum tiba.
Mengapa Chip Senilai Rp 16 Triliun Bisa Menganggur?
Masalahnya bukan pada prosesor. Chip "A20 Pro" yang menjadi otak iPhone 18 Pro, yang merupakan chip pertama Apple yang dibangun dengan proses N2 milik TSMC, dilaporkan memiliki volume produksi dan yield yang baik. Namun, proses pengemasan (packaging) chip tidak bisa diselesaikan tanpa modul DRAM yang berdampingan. Akibatnya, wafer yang sudah jadi menumpuk dan tidak bisa lanjut ke tahap produksi berikutnya.
Apple sendiri menggantungkan pasokan memori utamanya pada Micron, dengan pemasok tambahan dari SK Hynix dan Samsung. Para perakit seperti Foxconn dan BYD di China, yang bertugas merakit papan logika utama dan perangkat final, kini harus mengejar ketertinggalan jadwal jika pengiriman prosesor yang sudah dikemas semakin tertunda.
Dampaknya: Harga Naik dan Prioritas Produksi Bergeser
Kelangkaan DRAM ini bukan hanya masalah logistik. Ini adalah dampak dari perang belanja infrastruktur AI global yang menyedot pasokan memori dunia. CEO Apple, Tim Cook, sudah mengakui tekanan ini dalam panggilan pendapatan perusahaan pada 30 Juli lalu. "Kami melihat beberapa kendala yang sangat signifikan saat ini, dengan fleksibilitas yang terbatas di rantai pasokan," ujarnya.
Tekanan ini sudah memaksa Apple mengubah prioritas produksinya. Menurut laporan Mark Gurman dari Bloomberg, Apple kini mengarahkan pembeli ke MacBook Pro dan menjauhkan promosi dari MacBook Air. Keputusan ini diambil karena keterbatasan pasokan memori membuat produksi lini produk tertentu harus diprioritaskan.
Target Produksi 200 Juta Unit dan Harga iPhone Ultra
Di tengah kekacauan rantai pasokan ini, Apple dikabarkan tetap optimistis bisa memenuhi permintaan awal. Namun, sumber internal khawatir waktu tunggu pemesanan online akan memanjang dan stok ritel cepat habis. Para perakit telah diberi tahu bahwa Apple berencana memproduksi sekitar 200 juta unit gabungan untuk iPhone 18, iPhone 18 Pro, dan iPhone Ultra sepanjang siklus hidupnya.
Dari total tersebut, iPhone Ultra—yang merupakan ponsel lipat pertama Apple—hanya akan menyumbang kurang dari 10 persen. Sisanya akan dibagi rata antara model Pro dan standar. Untuk harga, iPhone lipat ini diperkirakan akan dibanderol lebih dari USD 2.000 (sekitar Rp 33 juta), menjadikannya iPhone termahal yang pernah dijual Apple.
Kapan Tersedia di Indonesia?
Belum ada kepastian kapan iPhone 18 series akan masuk pasar Indonesia. Untuk konteks, seri iPhone 16 baru resmi dipasarkan di Indonesia pada awal 2025 setelah melalui proses negosiasi terkait regulasi TKDN. Jika pola yang sama terjadi, konsumen Tanah Air kemungkinan baru bisa menikmati iPhone 18 series beberapa bulan setelah perilisan global. Yang jelas, kelangkaan DRAM ini bisa memperpanjang daftar tunggu di semua pasar, termasuk Indonesia.