KALIMANTAN SELATAN — Pre-order trio ponsel lipat anyar Samsung di Korea Selatan ditutup dengan angka fantastis. Gabungan Galaxy Z Fold 8, Z Fold 8 Ultra, dan Z Flip 8 mencatatkan total 1,44 juta unit pemesanan, melampaui rekor lama Galaxy Note 10 yang bertengger di angka 1,38 juta unit sejak 2019. Yang menarik, pencapaian ini terjadi di tengah harga jual yang lebih tinggi dan pengurangan insentif promosi oleh Samsung.
Kenaikan 39% di Tengah Krisis Chip Memori
Pencapaian ini bukan kebetulan. Dibanding pendahulunya, Galaxy Z Fold 7 dan Z Flip 7 yang "hanya" mengumpulkan 1,04 juta unit tahun lalu, kenaikannya mencapai hampir 39 persen. Bahkan seri Galaxy S26 yang dirilis Maret 2026 lalu hanya mampu membukukan 1,35 juta unit pre-order—masih di bawah trio Z8.
Yang bikin geleng-geleng kepala: semua ini diraih tanpa jurus diskon besar-besaran. Samsung justru memangkas insentif seperti upgrade penyimpanan gratis di Korea Selatan. Penyebabnya, krisis chip memori global yang membuat biaya produksi membengkak. Alhasil, harga ketiga ponsel ini lebih mahal dari generasi sebelumnya.
Harga di Indonesia: Mulai Rp 19,9 Juta hingga Rp 44,5 Juta
Untuk pasar Indonesia, Samsung sudah mematok harga resmi ketiga varian tersebut. Berikut rinciannya:
- Galaxy Z Flip 8 (12/256 GB): Rp 19.999.000 | (12/512 GB): Rp 23.999.000
- Galaxy Z Fold 8 (12/256 GB): Rp 28.499.000 | (12/512 GB): Rp 32.499.000 | (16/1 TB): Rp 40.499.000
- Galaxy Z Fold 8 Ultra (12/256 GB): Rp 32.499.000 | (12/512 GB): Rp 36.499.000 | (16/1 TB): Rp 44.499.000
Selisih harga antara Fold 8 reguler dan varian Ultra di Indonesia cukup tipis, hanya Rp 4 juta untuk varian dasar. Ini bisa jadi pertimbangan buat yang serius mau naik kelas ke lini paling premium.
Desain Baru 4:3 dan Peran Baru Varian Ultra
Salah satu pendorong utama minat besar ini adalah perubahan desain radikal pada Galaxy Z Fold 8. Untuk pertama kalinya, Samsung mengadopsi rasio aspek 4:3 yang bikin profilnya lebih mirip paspor—meninggalkan bentuk ramping dan tinggi yang selama tujuh tahun jadi ciri khas lini Fold model buku. Konsekuensinya, peran produktivitas kelas atas kini digeser ke varian Ultra, sementara Fold 8 reguler tampil lebih ringkas.
Dari total 1,44 juta unit pesanan, sekitar 70 persen di antaranya jatuh ke Galaxy Z Fold 8 reguler. Sisanya, 30 persen, terbagi antara Z Flip 8 dan Z Fold 8 Ultra.
Pembeli Berubah: 62% Beralih dari Ponsel Konvensional
Data dari operator SK Telecom menunjukkan 62 persen pembeli trio Z8 adalah pengguna ponsel konvensional (bar-type) yang pindah ke ponsel lipat. Angka ini naik 10 persen dibanding generasi sebelumnya. Artinya, ponsel lipat tidak lagi sekadar barang mainan penggemar teknologi—ia mulai diterima sebagai daily driver.
Dari sisi demografi, Samsung mencatat pembeli wanita berusia 10–40 tahun yang memesan lewat toko online resmi meningkat lebih dari dua kali lipat. Sekitar setengah dari total pembeli di toko online Samsung juga berasal dari rentang usia 10–30 tahun. Kombinasi harga premium dengan permintaan rekor ini menunjukkan minat terhadap ponsel lipat sudah benar-benar nyata, bukan sekadar efek promo.
Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Membeli
Di balik angka pre-order yang impresif, ada beberapa catatan yang perlu Anda pertimbangkan sebelum merogoh kocek puluhan juta rupiah. Pertama, harga yang lebih mahal akibat krisis chip memori diprediksi akan bertahan lama—jangan berharap harga turun signifikan dalam waktu dekat. Kedua, perubahan rasio aspek ke 4:3 bisa jadi penyesuaian besar bagi pengguna lama yang sudah nyaman dengan bentuk Fold sebelumnya. Terakhir, insentif promosi yang dipangkas di Korea Selatan bisa jadi sinyal bahwa pasar Indonesia juga akan mendapat perlakuan serupa—jadi hitung ulang nilai tukar tambah (trade-in) Anda sebelum memutuskan.