BANJARMASIN — Guru Haji Mansyah menegaskan bahwa seorang Muslim yang melalaikan atau menunda-nunda shalat lantaran kesibukan duniawi telah menempatkan hawa nafsunya di atas perintah Allah SWT. Hal ini ia sampaikan di hadapan jamaah Masjid Assa'adah, Komplek Beruntung Jaya, Banjarmasin, sesudah Shalat Subuh, Ahad.
"Orang yang melalaikan atau menunda-nunda shalat karena urusan dunia sama dengan menuhankan hawa nafsu," ujar Guru Mansyah dalam tausyiahnya.
Shalat Lebih Utama dari Segala Urusan Dunia
Guru Mansyah meminta jamaah untuk segera meninggalkan aktivitas duniawi, termasuk rapat atau pekerjaan kantor, begitu azan berkumandang. Pekerjaan tersebut, menurutnya, boleh dilanjutkan kembali setelah menunaikan shalat fardhu.
Ia mengingatkan bahwa shalat merupakan zikrullah utama, sebagaimana termaktub dalam Al Qur'an Surah An Nisa ayat 103. Umat Islam diperintahkan untuk senantiasa berzikir kepada Allah dalam keadaan bagaimanapun.
Keikhlasan Menjadi Syarat Diterimanya Amal
Dalam kesempatan itu, guru agama yang sudah berusia tua ini juga menekankan pentingnya keikhlasan dalam beramal. Setiap ibadah, termasuk dalam mencari rezeki, hendaknya dilakukan semata-mata karena Allah, bukan untuk meraih pujian dari sesama makhluk.
"Sebagaimana penegasan dalam Al Qur'an Surah Al Kahfi ayat terakhir (110); bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia biasa yang diberi wahyu, kewajiban mengesakan Allah, serta syarat utama diterimanya amal yaitu keikhlasan tanpa syirik," kutip Guru Mansyah.
Dendam Menjadi Penghalang Terkabulnya Doa
Guru Mansyah turut menyoroti sifat dendam yang kerap bersarang di hati sebagian orang. Sikap tersebut, lanjutnya, bertentangan dengan ajaran Islam dan menjadi pertanda ketidaksenangan seorang hamba terhadap ketetapan Allah.
"Karena dendam itu sama dengan tidak senang Allah, dan orang pendendam do'anya tertolak," tegasnya.
Tausyiah Subuh ini menjadi pengingat bagi jamaah untuk senantiasa menjaga keikhlasan, mendahulukan kewajiban shalat, serta menjauhkan diri dari sifat-sifat yang dapat merusak amal ibadah.