Pencarian

5 Tokoh Terkenal Asal Kalimantan Selatan yang Menginspirasi, dari Ulama hingga Pahlawan Nasional

Selasa, 28 Juli 2026 • 19:21:02 WIB
5 Tokoh Terkenal Asal Kalimantan Selatan yang Menginspirasi, dari Ulama hingga Pahlawan Nasional
Pangeran Antasari memimpin Perang Banjar melawan kolonial Belanda melalui strategi perang gerilya dari hutan dan rawa-rawa.

Di Banjarmasin, nama Pangeran Antasari bukan sekadar corong di jalan protokol. Sosoknya adalah napas perjuangan rakyat Kalimantan Selatan melawan kolonial Belanda di abad ke-19. Tapi Kalimantan Selatan tidak cuma satu pahlawan. Banyak anak daerah yang warisannya masih terasa hingga hari ini, baik di bidang agama, pendidikan, maupun seni budaya.

Berikut lima tokoh asal Kalsel yang jejaknya layak dijadikan pegangan. Bukan sekadar nama di buku sejarah, melainkan figur yang perjuangannya bisa langsung kita lihat dampaknya di masyarakat.

1. Pangeran Antasari — Panglima Perang yang Tak Pernah Menyerah

Pangeran Antasari lahir di Kayu Tangi, Banjar, pada 1797. Ia memimpin Perang Banjar (1859–1863) melawan Belanda setelah Kesultanan Banjar terus dipersempit kekuasaannya. Strategi perang gerilya yang ia jalankan dari hutan dan rawa-rawa membuat Belanda kewalahan selama bertahun-tahun.

Pada 11 Maret 1862, ia dinobatkan sebagai Sultan Banjar oleh para pengikutnya. Namun, ia wafat beberapa bulan kemudian akibat cacar di Bayan Begok, wilayah yang kini masuk Kabupaten Barito Utara. Pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada 1968. Makamnya di Banjarmasin menjadi tempat ziarah rutin, terutama menjelang Hari Pahlawan setiap 10 November.

2. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari — Ulama Besar Pengarang Kitab Sabilal Muhtadin

Lahir di Martapura pada 1710, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah ulama berpengaruh di Asia Tenggara. Ia belajar di Mekkah selama 35 tahun dan menjadi murid kesayangan ulama-ulama besar Haramain. Sekembalinya ke Banjar pada 1772, ia mendirikan pusat pengajian di Dalam Pagar, Martapura.

Kitab karyanya, Sabilal Muhtadin, menjadi rujukan utama mazhab Syafi'i di Nusantara hingga sekarang. Metode dakwahnya yang menggabungkan syariat dengan budaya lokal membuat Islam mudah diterima masyarakat Banjar. Pesantren-pesantren di Kalimantan Selatan masih banyak yang menggunakan kitab karyanya sebagai kurikulum inti.

3. Pangeran Muhammad Noor — Arsitek Pembangunan Ibu Kota Negara

Pangeran Muhammad Noor lahir di Martapura pada 1901. Ia adalah Gubernur Kalimantan periode 1945–1947 dan Menteri Pekerjaan Umum era Kabinet Ali Sastroamidjojo. Namanya diabadikan sebagai Bandar Udara Syamsudin Noor di Banjarbaru, bandara utama Kalimantan Selatan.

Di bawah kepemimpinannya, proyek-proyek infrastruktur besar digarap, termasuk perencanaan awal pembangunan ibu kota negara di Palangkaraya. Gagasannya tentang kota yang terintegrasi dengan sungai dan hutan masih relevan dibahas dalam diskusi tata kota modern. Ia wafat di Jakarta pada 1979 dan dimakamkan di Banjarmasin.

4. Idham Chalid — Tokoh Nahdlatul Ulama dan Wakil Perdana Menteri

Idham Chalid lahir di Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, pada 1921. Ia adalah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) terlama, menjabat dari 1956 hingga 1984. Di pemerintahan, ia pernah menjabat Wakil Perdana Menteri, Menteri Koordinator, dan Ketua MPR/DPR.

Perannya dalam menjaga stabilitas politik di era Orde Lama dan Orde Baru sangat besar. Ia dikenal sebagai juru damai yang mampu merangkul berbagai faksi. Pengaruhnya di kalangan pesantren dan masyarakat tradisional sangat kuat. Namanya diabadikan sebagai nama jalan di beberapa kota di Indonesia, termasuk Banjarmasin.

5. H. Anang Ardiansyah — Maestro Musik Panting dan Budayawan Banjar

Anang Ardiansyah lahir di Banjarmasin pada 1959. Ia adalah seniman multi-instrumental yang menghidupkan kembali musik panting, kesenian tradisional khas Banjar yang hampir punah. Ia tidak hanya memainkan alat musik panting, tetapi juga menciptakan komposisi baru yang memadukan unsur tradisional dengan modern.

Karyanya Panting Banjar dan Madihin sering dipentaskan di festival budaya nasional dan internasional. Ia mendirikan Sanggar Seni Anang Ardiansyah di Banjarmasin yang menjadi pusat pelatihan generasi muda. Dedikasinya membuat musik panting diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Siapa pahlawan paling terkenal dari Kalimantan Selatan?
Pangeran Antasari adalah pahlawan nasional paling ikonik dari Kalsel karena perjuangannya dalam Perang Banjar melawan Belanda.

2. Apa kitab terkenal karya ulama asal Banjar?
Sabilal Muhtadin karya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah kitab fikih mazhab Syafi'i yang jadi rujukan utama di Asia Tenggara.

3. Apakah ada tokoh Kalimantan Selatan yang berperan di tingkat nasional?
Idham Chalid pernah menjabat Wakil Perdana Menteri dan Ketua MPR, sementara Pangeran Muhammad Noor menjadi Menteri Pekerjaan Umum.

4. Siapa budayawan Banjar yang diakui secara nasional?
H. Anang Ardiansyah adalah maestro musik panting dan budayawan yang karyanya diakui sebagai warisan budaya tak benda.

5. Di mana makam Pangeran Antasari berada?
Makam Pangeran Antasari terletak di kawasan Kayu Tangi, Banjarmasin, dan sering diziarahi masyarakat.

Lima tokoh di atas membuktikan bahwa Kalimantan Selatan bukan hanya daerah dengan kekayaan alam, tetapi juga gudangnya sumber daya manusia berkualitas. Dari medan perang, ruang pesantren, hingga panggung seni, mereka meninggalkan warisan yang terus hidup. Tidak perlu jauh-jauh mencari inspirasi—cukup lihat sejarah dan karya anak Banjar sendiri.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks