BANJARBARU — Cekaman panas akibat kemarau panjang menjadi ancaman serius bagi kesehatan hewan ternak di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Heat stress yang dialami ternak memicu penurunan daya tahan tubuh, membuat hewan menjadi lebih rentan terhadap serangan berbagai macam penyakit.
Paparan suhu udara yang tinggi dan berkepanjangan membuat metabolisme tubuh hewan terganggu. Akibatnya, kondisi fisik ternak melemah dan tidak mampu melawan infeksi penyakit yang biasanya mudah ditangkal saat kondisi tubuh prima.
Ketika ternak mengalami heat stress, tubuhnya akan berusaha keras untuk mendinginkan diri. Proses ini memakan banyak energi, sehingga energi yang seharusnya digunakan untuk menjaga sistem kekebalan tubuh justru dialihkan untuk regulasi suhu.
Akibatnya, sistem imun hewan menurun drastis. Hewan ternak yang sehat pun bisa dengan mudah tertular penyakit, terutama penyakit yang menyerang sistem pernapasan dan pencernaan.
Kemarau panjang tidak hanya meningkatkan suhu udara, tetapi juga mengurangi ketersediaan air bersih dan hijauan pakan ternak. Kekurangan asupan nutrisi dan cairan memperberat kondisi fisiologis hewan yang sudah tertekan oleh panas.
Kombinasi antara suhu ekstrem, minimnya pakan berkualitas, dan terbatasnya sumber air menjadi faktor utama yang membuat ternak di Banjarbaru sangat rentan terhadap heat stress pada musim kemarau kali ini.
Peternak diimbau untuk lebih jeli mengenali perubahan perilaku ternak yang mengarah pada gejala heat stress. Deteksi dini menjadi kunci untuk mencegah kerugian yang lebih besar akibat kematian ternak.
Beberapa ciri yang umum terlihat antara lain ternak menjadi lebih lemas, nafsu makan menurun drastis, serta frekuensi minum yang meningkat. Pada unggas, biasanya terlihat terengah-engah atau membuka paruh untuk menurunkan suhu tubuh.
Jika gejala-gejala ini muncul, peternak disarankan untuk segera melakukan tindakan penanganan agar kondisi kesehatan ternak tidak semakin memburuk dan berujung pada kematian.