KALIMANTAN SELATAN — Ketua Sobat Pesona Indonesia, Ruri, menilai sektor pariwisata tanah air perlu menyiapkan strategi menghadapi pemulihan ekonomi global yang diprediksi terjadi pada 2027. Berdasarkan keterangan World Bank dan Bank Indonesia, pemulihan tersebut menjadi peluang besar setelah tahun 2026 yang disebut sebagai periode suram bagi ekonomi dunia. Indonesia kini berada di peringkat 23 dunia dalam laporan Travel and Tourism Development Index 2026.
Ruri menyampaikan hal itu dalam keterangannya di Jakarta, menyoroti dampak konflik berkepanjangan di Eropa Timur dan Timur Tengah terhadap lesunya sektor pariwisata nasional. Menurut dia, situasi global tersebut mengganggu arah jaringan penerbangan dan menurunkan minat wisata global.
Tekanan Konflik Global terhadap Sektor Pariwisata
Perang antara Ukraina dan Rusia serta ketegangan di Timur Tengah disebut menjadi penyebab utama melemahnya ekonomi dunia sepanjang 2026. Dampaknya merembet ke pasokan energi dan rute penerbangan internasional, yang berimbas langsung pada kunjungan wisatawan ke Indonesia.
"Terjadinya konflik berkepanjangan di Eropa antara Ukraina dan Rusia serta Timur Tengah membuat ekonomi global menjadi lesu yang berdampak terhadap sektor pariwisata tanah air," kata Ruri.
Meski begitu, Ruri merujuk keterangan World Bank dan Bank Indonesia yang memproyeksikan pemulihan ekonomi global pada 2027. Perubahan kondisi itu dianggap sebagai momentum yang harus dimanfaatkan sektor pariwisata.
Kontribusi Pariwisata Global Capai USD 11,6 Triliun
Laporan Travel and Tourism Development Index 2026 (TTDI) mencatat kontribusi ekonomi sektor travel dan tourism global mencapai USD 11,6 triliun, setara 10 persen dari PDB global. Angka itu menunjukkan posisi strategis pariwisata dalam perekonomian dunia.
TTDI juga memaparkan empat pilar utama yang mendorong pertumbuhan sektor ini. Kekayaan budaya mencatat kenaikan tertinggi sebesar 9,6 persen, disusul pelayanan dan infrastruktur 9,2 persen, bandar udara 7,2 persen, serta teknologi informasi dan komunikasi 3,2 persen.
"Dari empat pilar yang dipaparkan laporan TTDI, Indonesia sudah memiliki semua untuk bersaing dalam kancah global. Pariwisata Indonesia hanya perlu pemantapan kualitas dan promosi yang menjual sehingga lebih menarik minat wisatawan luar dan domestik," imbuh Ruri.
Posisi Indonesia di Peringkat Dunia
Dalam laporan TTDI, Indonesia berada di urutan 23 sebagai negara terbaik untuk wisata. Di kawasan Asia, Indonesia menempati posisi kelima setelah Jepang, China, Korea Selatan, dan Singapura.
Capaian itu disebut tidak lepas dari kerja Menteri Pariwisata Widi Wardhana melalui konsep wisata naik kelas. Konsep tersebut mencakup pengembangan destinasi, pemantapan sumber daya manusia, pengembangan teknologi informasi dan komunikasi, serta prinsip keberlanjutan.
"Posisi Indonesia dalam laporan TTDI tidak terlepas dari kerja keras Ibu Menteri Pariwisata dengan konsep Wisata Naik Kelas. Saya juga yakin Pariwisata Indonesia akan mampu merebut pasar wisata global dan berkontribusi untuk menyumbang devisa lebih banyak lagi bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia," tutup Ruri.
Ruri saat ini aktif mengembangkan desa wisata, sejalan dengan dorongan pemerintah memperkuat destinasi berbasis komunitas. Bagi pelaku usaha pariwisata dan desa wisata, momentum pemulihan 2027 menjadi waktu yang tepat untuk membenahi kualitas layanan dan promosi digital.