KALIMANTAN SELATAN — Lionel Scaloni tidak mampu menahan air mata saat Lionel Messi menjalani laga perpisahan bersama timnas Argentina. Kemenangan 3-0 atas Benin di Buenos Aires menjadi penampilan terakhir La Pulga, yang turut menyumbang satu gol lewat titik putih.
Lionel Scaloni memasuki ruangan konferensi pers dengan mata yang masih basah. Pelatih timnas Argentina itu baru saja menyaksikan Lionel Messi mengenakan seragam Albiceleste untuk terakhir kalinya dalam laga yang berakhir 3-0 atas Benin di Buenos Aires, Rabu (7/10) pagi WIB.
Messi mencetak satu gol dari titik putih, sementara dua gol lainnya disumbangkan Nicolas Otamendi dan Nico Paz. Setelah pertandingan, La Pulga diberi kesempatan menyampaikan pidato perpisahan yang memicu banjir air mata, termasuk dari sang pelatih.
Air Mata Scaloni di Ruang Konferensi Pers
Scaloni mengaku emosinya meledak bukan tanpa alasan. Baginya, Messi bukan sekadar pemain biasa dalam skuad yang ia tangani sejak 2018.
"Air mata ini muncul karena dia akan pergi, atau lebih tepatnya, seorang pesepakbola yang tak tergantikan tidak akan bermain lagi," kata Scaloni dikutip Reuters.
"Pastinya, tidak akan pernah ada lagi sosok seperti dia, tidak akan pernah ada lagi yang seperti dirinya. Dan, ini adalah hari yang sangat emosional sekaligus menyedihkan karena dia tidak akan lagi bermain dengan mengenakan seragam ini," ujarnya menambahkan.
Dua Dekade Dedikasi dan Rasa Terima Kasih
Scaloni secara khusus menyoroti dedikasi Messi selama dua dekade terakhir. Sejak debut pada 17 Agustus 2005, La Pulga mencatat 208 penampilan bersama timnas Argentina dan mempersembahkan empat gelar prestisius, termasuk Piala Dunia dan Copa America.
"Rasa terima kasih yang tak terhingga atas semua yang telah dia berikan kepada kami, karena telah membela seragam ini dengan cara yang tiada duanya," ucap Scaloni.
Melatih Messi Adalah Impian yang Jadi Kenyataan
Scaloni juga menyebut pengalaman melatih pemilik Ballon d'Or terbanyak sepanjang masa itu sebagai pencapaian pribadi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
"Dan bagi saya, melatihnya adalah sebuah impian yang menjadi kenyataan. Saya sampaikan hal itu kepadanya hari ini, di hadapan semua orang, dengan sisa tenaga yang saya miliki untuk mengatakannya," tuturnya.
"Tak pernah sekalipun dalam hidup saya membayangkan akan menjadi pelatih bagi pesepakbola terbaik dalam sejarah. Dia pantas mendapatkan segalanya; dia telah menjadi yang terbaik selama 20 tahun kariernya dan masih terus demikian," pungkas Scaloni.
Laga perpisahan ini menutup babak panjang Messi bersama Albiceleste. Argentina kini harus bersiap memasuki era baru tanpa sosok yang selama dua dekade menjadi ikon utama mereka.