KALIMANTAN SELATAN — Mantan gelandang Timnas Jerman, Thomas Hitzlsperger, menyesalkan cara sejumlah jurnalis memburu berita tentang pemain sepak bola gay. Menurut dia, tekanan media agar pemain segera mengumumkan orientasi seksual justru kontraproduktif bagi mereka yang masih memilih bungkam.
Hitzlsperger berbicara kepada FourFourTwo tentang pengalamannya sendiri sebagai salah satu dari sangat sedikit pesepak bola profesional pria yang terbuka sebagai gay. Ia mengumumkan identitasnya pada 2014, beberapa bulan setelah memutuskan pensiun dari lapangan hijau.
Tekanan Media Dinilai Melebihi Niat Membantu
Mantan penggawa Aston Villa itu menilai hasrat sebagian jurnalis untuk lebih dulu memecah berita tentang pemain gay sudah keterlaluan. Menurut Hitzlsperger, orientasi pemberitaan semacam itu lebih soal mengejar cerita eksklusif ketimbang mendorong perubahan nyata.
"Sekarang ini ada keinginan kuat dari sejumlah jurnalis untuk memecah berita dan itu jadi hampir obsesif," kata Hitzlsperger.
Ia menegaskan sikap itu sangat mengganggu karena pemain yang belum siap sebaiknya dibiarkan menemukan jalannya sendiri. Hitzlsperger berharap media tidak memberi kesan memaksa siapa pun mengumumkan orientasi seksual demi kepentingan yang lebih besar.
Contoh dari Luar Sepak Bola dan Harapan untuk Para Pemain
Hitzlsperger merujuk langkah 125 pegawai Gereja Katolik Jerman yang mengumumkan identitas mereka secara kolektif pada 2022. Bagi dia, aksi bersama itu jadi pernyataan kuat dan menunjukkan bahwa solidaritas bisa dibangun tanpa menekan individu.
Di dunia sepak bola, ia menilai peluang serupa sebenarnya terbuka. Namun setiap kisah berbeda, sehingga sebagian pemain mungkin ingin menyampaikan ceritanya sendiri, bukan menjadi satu dari sekian banyak nama dalam daftar pemain yang keluar.
"Saya hanya berharap pemain sepak bola yang gay menemukan cara untuk hidup bahagia," ujar pria yang mengoleksi 52 caps bersama Timnas Jerman.
Transisi Setelah Pensiun, Persoalan yang Sama bagi Semua Pemain
Hitzlsperger juga menyoroti masa peralihan setelah karier bermain berakhir. Ia pensiun pada 2013 di usia 31 tahun dan baru kemudian mendalami identitasnya sebagai pria gay.
Menurut dia, transisi itu dialami setiap pemain dan intinya adalah menemukan gairah baru. Selama bertahun-tahun hidup seorang pesepak bola diatur orang lain, mulai dari jadwal latihan, pakaian, sampai rutinitas harian.
Ketika karier selesai, sang pemain harus memikirkan sendiri apa yang ingin ia lakukan dan siapa dirinya di luar status mantan pesepak bola. Hitzlsperger menyebut kemampuan hidup mandiri dan jauh dari sorotan sebagai kunci untuk membangun karier kedua yang sukses.
Sejak gantung sepatu, Hitzlsperger beralih ke dunia komentator. Isu diskriminasi anti-LGBTQ+ di sepak bola sendiri terus menjadi perhatian lewat inisiatif Football v Homophobia yang berjalan sepanjang tahun di berbagai level kompetisi.