Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat tipis 5,47 poin ke level 6.507,14 pada perdagangan Rabu, di tengah sentimen global yang bercampur. Pelaku pasar kini menanti data inflasi Amerika Serikat dan pidato pejabat The Fed, sementara aksi unjuk rasa mahasiswa di depan Gedung DPR/MPR serta kebijakan ekspor komoditas baru ikut mewarnai laju indeks domestik.
JAKARTA — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu dibuka di zona hijau, namun potensi pergerakan variatif masih membayangi di tengah pelaku pasar yang mencermati sentimen dari dalam dan luar negeri. Indeks acuan tanah air ini naik 5,47 poin atau 0,08 persen ke posisi 6.507,14, sementara Indeks LQ45 menguat 0,62 poin ke level 642,57.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai IHSG masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan selama bertahan di atas level support kunci 6.462,35. Ia menyebut target kenaikan berikutnya berada di kisaran 6.601,98, dengan resistance lanjutan di area 6.723,32.
“Sebaliknya, apabila terjadi koreksi dan IHSG kembali turun di bawah 6.462,35, indeks berpotensi menguji level 6.425,22, kemudian 6.350,05 sebagai support berikutnya,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Dari mancanegara, eskalasi perang dagang kembali memanas setelah Kanada mengumumkan tarif balasan hingga 50 persen terhadap barang asal AS senilai hampir 28 miliar dolar AS. Langkah ini memicu kekhawatiran baru di pasar keuangan global.
Selain itu, perkembangan hubungan AS dengan Iran tetap menjadi perhatian utama. Kebijakan Washington yang membatasi akses Teheran ke sistem keuangan global meningkatkan permintaan aset safe haven. Meski begitu, kabar mengenai pembahasan Iran dan Oman untuk membentuk koridor maritim sementara di Selat Hormuz berhasil meredam kekhawatiran gangguan pasokan energi.
Di sisi lain, rebound saham teknologi dan semikonduktor di AS menunjukkan investor mulai berani mengambil posisi kembali. Namun, ekspektasi tinggi terhadap kinerja Nvidia dinilai berisiko memicu pola buy the rumor, sell the news.
Dari dalam negeri, pasar mencermati rencana aksi unjuk rasa Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, pada Kamis (27/8) mulai pukul 14.00 WIB. Aksi yang diestimasi dihadiri sekitar 1.000 mahasiswa dan masyarakat sipil ini berpotensi memicu volatilitas pasar domestik.
“Aksi ini berpotensi meningkatkan volatilitas pasar domestik apabila berkembang menjadi eskalasi sosial atau mengganggu aktivitas ekonomi, meski dampaknya diperkirakan terbatas apabila berlangsung tertib,” kata Liza.
Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan evaluasi berkala terhadap 14 indeks saham pada Senin (24/8). Hasil evaluasi ini akan mulai berlaku pada 1 September 2026, mencakup sejumlah indeks seperti IDXSHAGROW, JII70, ISSI, dan IDXMESBUMN.
PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) resmi menjalankan peran sebagai intermediary tunggal dalam tata kelola ekspor tiga komoditas strategis, yakni batubara, CPO, dan ferroalloy. Total estimasi nilai ekspor yang dikelola mencapai hampir 70 miliar dolar AS.
DSI akan memverifikasi kuantitas, kualitas, klasifikasi, harga, pembayaran hingga repatriasi devisa. Perusahaan ini juga mengintegrasikan data dari tujuh kementerian/lembaga untuk mendeteksi potensi under-invoicing dan transfer pricing. Portal eksportir ditargetkan diluncurkan pada September 2026, dengan evaluasi model intermediary dilakukan menjelang 1 Januari 2027.
Sementara itu, bursa Wall Street AS kompak menguat pada Selasa (25/08), dengan indeks S&P 500 naik 0,30 persen ke 7.675,54 dan Nasdaq Composite menguat 0,70 persen ke 26.151,30. Bursa Asia pagi ini juga mayoritas menghijau, dipimpin Hang Seng yang naik 0,94 persen dan Kospi yang menguat 0,73 persen.