Pencarian

Taman Nasional Tambora Terbakar, 14 Ribu Hektare Savana Hangus

Senin, 21 September 2026 • 15:22:02 WIB
Taman Nasional Tambora Terbakar, 14 Ribu Hektare Savana Hangus
Petugas gabungan melakukan patroli di kawasan Taman Nasional Tambora, Dompu, NTB.

KALIMANTAN SELATAN — Kawasan Taman Nasional Tambora di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, kehilangan 14 ribu hektare lahan savana akibat kebakaran hutan dan lahan sepanjang 2026. Balai Taman Nasional Tambora mencatat 125 titik kejadian, namun hingga kini belum menemukan satu pun pelaku pembakaran. Musim kemarau panjang membuat semak belukar dan ilalang di kawasan ini mudah terbakar.

Kepala Balai Taman Nasional Tambora Abdul Azis Bakry menyatakan areal yang terbakar mencapai lebih dari 14 ribu hektare dengan 125 titik kejadian. Angka itu dihimpun dari patroli gabungan yang melibatkan petugas taman nasional, polisi, TNI, dan warga sekitar kawasan.

Kebakaran terjadi di padang savana yang didominasi semak belukar dan ilalang kering akibat musim kemarau. Vegetasi itulah yang paling terdampak, sementara satwa liar di kawasan tersebut tidak ditemukan menjadi korban.

Penyebab Masih Misteri

Petugas menduga kebakaran berkaitan dengan aktivitas ilegal di dalam kawasan. Tiga kelompok yang disorot adalah pemburu rusa timor, pencari madu, dan pemandu wisata yang beroperasi tanpa pengawasan.

Dugaan lain mengarah ke aksi pembakaran lahan pertanian oleh petani di sekitar kawasan taman nasional. Namun, tidak satu pun dari dugaan tersebut yang berhasil dibuktikan di lapangan.

"TN Tambora open akses, pada saat terjadi kebakaran tidak ditemukan adanya aktivitas manusia di sekitar lokasi sehingga tidak dapat memastikan pelaku yang melakukan pembakaran," kata Abdul Azis.

Patroli gabungan pencegahan kebakaran digelar di sejumlah titik, termasuk wilayah SPTN Wilayah I Kore dan SPTN Wilayah II Pekat. Hasilnya nihil. Tidak ada pelaku pembakaran yang tertangkap, baik dari patroli maupun penyelidikan petugas taman nasional.

Dampak bagi Ekosistem dan Wisata

Kerugian terbesar ada pada vegetasi savana dan semak belukar yang menjadi lanskap khas Taman Nasional Tambora. Selama ini, hamparan savana tersebut menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang mendaki ke kaldera Gunung Tambora.

Kawasan Taman Nasional Tambora sendiri merupakan situs bersejarah letusan dahsyat 1815 yang mengubah iklim global. Trekking ke kaldera biasanya melewati padang savana dan hutan yang kini sebagian besar hangus.

Bagi wisatawan yang berencana berkunjung, kondisi jalur pendakian pasca-kebakaran sebaiknya dikonfirmasi langsung ke Balai Taman Nasional Tambora atau dinas pariwisata setempat. Informasi terkini soal status kawasan, jalur yang dibuka, dan potensi pendakian perlu dipastikan sebelum berangkat.

Antisipasi Musim Kemarau Berikutnya

Musim kemarau menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran api di savana Tambora. Semak dan ilalang yang mengering berubah menjadi bahan bakar alami begitu ada sumber api, baik dari aktivitas manusia maupun faktor lain.

Hingga kini, Balai Taman Nasional Tambora belum mengumumkan langkah lanjutan pasca-kebakaran. Pemantauan di titik-titik rawan di wilayah SPTN I Kore dan SPTN II Pekat masih berjalan, meski tanpa tersangka yang bisa diproses hukum.

Bagi traveler yang menaruh Taman Nasional Tambora dalam daftar perjalanan, waktu terbaik berkunjung biasanya di musim hujan ketika savana menghijau. Namun, kondisi pasca-kebakaran tahun ini membuat perencanaan perlu lebih hati-hati dan berbasis informasi resmi terbaru.

Follow halobanjarmasin.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: travel.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks