KALIMANTAN SELATAN — Fasilitas ini tidak hanya memproduksi LNG. Dalam prosesnya, pabrik juga menghasilkan compressed natural gas (CNG), LPG, kondensat, hingga CO2 cair. Kapasitas untuk LPG mencapai 9.800 ton per tahun, kondensat 19.600 barel per tahun, dan CO2 cair 21.000 ton per tahun.
Untuk menjaga keberlanjutan produksi, pasokan gas bumi fasilitas ini berasal dari Lapangan Sumber milik PT Pertamina Hulu Energi Tuban East Java. Kontrak pasokan tercatat hingga tahun 2035 dengan volume 15 MMSCFD per hari.
Dalam sambutannya, Bahlil menyoroti kondisi harga gas industri di sejumlah daerah. Ia menyebut harga gas di Jawa Barat, Banten, Bekasi, dan Jakarta sempat mengalami kenaikan karena produksi gas dari lapangan setempat menurun.
“Terpaksa kita pakai LNG, sehingga harganya memang agak naik. Ini yang kita harus cari jalan tengah untuk mendorong ke sana,” kata Bahlil dalam siaran pers, Jumat (26/6).
Dengan beroperasinya pabrik di Tuban, ia berharap harga bahan baku industri di Jawa Timur tetap kompetitif. “Nah, ini sangat membantu industri dalam rangka memberikan kepastian terhadap bahan baku. Sekarang kita di Jawa Timur masih oke, harganya masih oke,” ujarnya.
Bahlil secara khusus meminta PT Pertamina Hulu Energi Tuban East Java untuk mendukung penuh kelancaran proyek ini hingga kontrak berakhir pada 2035. Ia menekankan pentingnya kepastian kontrak bagi investor yang telah mengeluarkan modal besar.
“Tolong di-support, ya. Jangan sampai kalian dua tahun terus macet-macet kan, tidak boleh. Orang sudah investasi besar ini, jadi support terus, pegang itu kontrak, jangan diubah-ubah kontraknya,” tegas Bahlil.
Pemerintah menilai fasilitas ini dapat memperkuat keandalan pasokan energi domestik, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor yang lebih mahal dan beremisi tinggi, serta mendorong pemanfaatan gas bumi di tengah ketidakpastian geopolitik global. Bahlil juga menyebut produksi LNG dan LPG dari pabrik ini menjadi bagian dari upaya mengurangi impor LPG nasional.