Mantan Kepala AI Databricks Klaim Teknologi Baru Bisa Hemat Listrik AI hingga 1.000 Kali Lipat

Penulis: Toni Haryadi  •  Jumat, 26 Juni 2026 | 00:07:01 WIB
Perusahaan rintisan klaim teknologi chip oscillator hemat listrik AI hingga 1.000 kali lipat.

KALIMANTAN SELATAN — Perusahaan rintisan yang baru berdiri dengan kurang dari 50 karyawan ini mengklaim arsitektur oscillator buatannya bisa memangkas kebutuhan listrik untuk menjalankan model AI hingga 1/1000 dari sistem saat ini. Klaim tersebut mereka sampaikan bertepatan dengan perilisan Un0, model AI generasi gambar pertama yang dibangun di atas simulasi perangkat lunak dari chip tersebut.

Bukan Sekadar Chip Biasa

Berbeda dengan chip silikon standar yang memproses data secara digital, arsitektur oscillator bekerja dengan prinsip fisik yang berbeda. Alih-alih menggunakan transistor yang menyala-mati (on-off), sistem ini memanfaatkan osilasi atau getaran listrik untuk melakukan komputasi. Pendekatan ini disebut jauh lebih efisien secara energi untuk tugas-tugas inferensi AI.

“Ini adalah ‘hello world’ dari jenis komputer baru,” ujar Naveen Rao kepada TechCrunch. “Dalam setahun ke depan, Anda akan mulai melihat berita-berita menarik seputar teknologi ini.”

Hasil Gambar Setara Model Besar, tapi dengan Biaya Energi Minimal

Un0 menghasilkan gambar dengan kualitas visual yang sebanding dengan model difusi populer seperti Stable Diffusion atau GPT Image 1 milik OpenAI. Tim riset Unconventional AI telah mempublikasikan makalah yang mendampingi perilisan model ini, menunjukkan bahwa Un0 mampu mencapai performa setara model-model tersebut meski berjalan di atas arsitektur yang sama sekali berbeda.

Rao menekankan bahwa saat ini Un0 masih berjalan di atas simulasi perangkat lunak dari chip oscillator. Perusahaan berencana merilis cetak biru (schematic) untuk chip fisik dalam waktu dekat.

Mengapa Efisiensi Energi Jadi Krusial untuk AI?

Menurut Rao, ketersediaan energi akan menjadi batasan paling keras (hard limit) bagi perkembangan AI dalam beberapa tahun ke depan. “Scaling AI itu sulit karena energi. Ini akan menjadi batasan fundamental. Anda tidak bisa melewatinya. Pada akhirnya, ini akan menjadi masalah yang dibatasi oleh energi,” jelasnya.

Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran global tentang konsumsi listrik pusat data AI yang melonjak drastis. Sejumlah laporan menunjukkan bahwa permintaan energi dari pusat data AI bisa melampaui pasokan listrik di beberapa negara dalam beberapa tahun.

Rencana ke Depan: Infrastruktur Inferensi dari Awal

Setelah chip fisik jadi, Unconventional AI berencana membangun seluruh tumpukan inferensi (inference stack) dari bawah ke atas. Model bisnisnya mirip penyedia komputasi awan: pengguna cukup mengirimkan perintah (prompt) dan menerima hasil inferensi melalui kabel jaringan.

“Kami akan membangun sistem baru yang terdiri dari chip-chip kami. Kami akan menjalankan model AI di sana, dan akan ada kabel jaringan tempat prompt masuk dan hasil inferensi keluar, tapi semuanya dilakukan dengan daya 1/1000,” kata Rao.

Target Audiens: Siapa yang Paling Diuntungkan?

Teknologi ini paling relevan untuk perusahaan teknologi besar yang mengoperasikan pusat data AI skala masif, di mana tagihan listrik menjadi komponen biaya operasional terbesar. Namun dalam jangka panjang, jika klaim efisiensi ini terbukti, konsumen juga bisa menikmati layanan AI yang lebih murah atau bahkan perangkat AI yang bisa berjalan di ponsel tanpa perlu koneksi cloud.

Unconventional AI masih harus membuktikan bahwa chip oscillator-nya bisa diproduksi massal dengan biaya kompetitif. Namun langkah pertama dengan dirilisnya Un0 menunjukkan bahwa jalan menuju komputasi AI yang lebih hemat energi bukan lagi sekadar teori.

Reporter: Toni Haryadi
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top