TAPIN — Lorong-lorong di dalam Gua Baramban bukan sekadar rongga bawah tanah biasa. Tim peneliti dari komunitas pecinta alam setempat menemukan bahwa setiap cabang lorong menyimpan karakteristik geologis yang berbeda, mulai dari stalaktit dan stalagmit yang masih aktif hingga aliran sungai bawah tanah yang jernih.
Gua yang terletak di perbukitan Desa Baramban ini dinilai cocok untuk wisata petualangan dan edukasi. Pemerintah Kabupaten Tapin disebut mulai melirik kawasan ini sebagai destinasi alternatif setelah objek wisata air di daerah lain mulai jenuh.
“Lorong-lorong ini punya daya tarik yang berbeda. Bukan sekadar gua biasa, tapi ada cerita geologi yang bisa dipelajari,” ujar seorang anggota tim eksplorasi yang enggan disebutkan namanya.
Hasil penelusuran sementara menunjukkan adanya tiga lorong utama yang masing-masing memiliki kedalaman hingga puluhan meter. Lorong pertama didominasi formasi batuan kapur dengan tekstur seperti koral, sementara lorong kedua menyimpan kolam alami dengan air yang sangat jernih.
Lorong ketiga menjadi yang paling misterius karena di ujungnya ditemukan ruangan besar dengan langit-langit setinggi lebih dari 15 meter. Tim eksplorasi menyebut ruangan itu sebagai “aula alami” yang bisa menampung puluhan orang.
Lokasi gua yang berada di tengah perkebunan karet dan jauh dari pemukiman penduduk membuat akses menuju mulut gua cukup sulit. Jalur setapak sepanjang sekitar 2 kilometer dari jalan desa harus ditempuh dengan berjalan kaki melewati medan berbukit.
Selain itu, minimnya informasi dan dokumentasi membuat Gua Baramban nyaris tidak dikenal dalam peta wisata Kalimantan Selatan. Baru dalam setahun terakhir, komunitas pemuda setempat mulai membersihkan jalur dan memasang tanda-tanda sederhana di titik-titik rawan tersesat.
Warga Desa Baramban mulai melihat peluang ekonomi dari temuan ini. Beberapa pemuda desa sudah merintis paket tur sederhana dengan tarif sukarela untuk pengunjung yang ingin menjelajahi lorong-lorong tersebut.
“Kalau dikelola serius, bisa jadi sumber penghasilan tambahan. Tapi kami juga khawatir kalau sampai dirusak,” kata seorang warga yang rumahnya berada di dekat jalur menuju gua.
Dinas Pariwisata Kabupaten Tapin dikabarkan akan melakukan survei langsung ke lokasi dalam waktu dekat. Pemerintah daerah mempertimbangkan untuk menetapkan Gua Baramban sebagai salah satu objek wisata unggulan baru.
Namun, langkah konservasi juga menjadi perhatian. Sebab, formasi batuan di dalam gua sangat rentan rusak jika tidak dijaga. Pemasangan pagar pengaman dan jalur khusus pengunjung menjadi salah satu usulan yang mengemuka.
Tidak seperti gua-gua lain di Kalimantan Selatan yang umumnya sudah dikomersialisasi, Gua Baramban masih sepenuhnya alami. Tidak ada lampu listrik, tidak ada tangga beton, dan tidak ada pedagang di dalamnya.
Keaslian inilah yang justru menjadi daya tarik utama. Bagi peneliti, kondisi perawan gua ini menyimpan data geologi dan biologi yang belum tercatat. Bagi petualang, sensasi menjelajah lorong gelap dengan hanya mengandalkan senter kepala menjadi pengalaman yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.