KALIMANTAN SELATAN — Setelah menjajal langsung Samsung Galaxy Z Fold 8 di toko ritel terdekat, jurnalis Windows Central Zac Bowden mengakui ponsel ini terasa seperti rumah baru. Bowden adalah mantan pengguna setia Surface Duo dan Surface Duo 2 dari 2020 hingga 2023, yang mengaku kecewa saat Microsoft menghentikan proyek tersebut. Menurutnya, Galaxy Z Fold 8 adalah penerus spiritual Surface Duo 3 yang paling mendekati kenyataan.
Perbandingan Dimensi: Mirip, Tapi Lebih Efisien
Secara dimensi, Galaxy Z Fold 8 dan Surface Duo memiliki kemiripan yang mencolok. Layar cover Galaxy Z Fold 8 berukuran 5,5 inci, hanya 0,1 inci lebih kecil dari layar individual Surface Duo yang 5,6 inci. Saat dilipat, keduanya hampir identik dalam hal lebar, membuat pengalaman mengetik dengan dua ibu jari terasa lega tanpa kram.
Saat dibuka, Galaxy Z Fold 8 menyajikan layar lipat 7,6 inci mulus tanpa sekat, sementara Surface Duo menggabungkan dua layar 5,6 inci dengan engsel fisik di tengah. Meski total area Surface Duo lebih besar (8,1 inci), celah di tengah layar membuat pengalaman menonton kurang imersif. Galaxy Z Fold 8 justru unggul dalam hal estetika berkat bezel tipis dan hampir tanpa lipatan (crease) pada layar fleksibelnya.
Dari segi bobot, Galaxy Z Fold 8 hanya 201 gram — 49 gram lebih ringan dari Surface Duo yang mencapai 250 gram. Ketebalan saat dilipat juga hampir sama: 9,7 mm berbanding 9,9 mm pada Duo. Perbedaan ini membuat Fold 8 terasa lebih nyaman digenggam dan dimasukkan ke saku celana.
Multitasking: Otomatis vs Manual
Salah satu keunggulan Surface Duo yang belum tertandingi Galaxy Z Fold 8 adalah multitasking otomatis. Bowden mencontohkan, saat mengetuk tautan di aplikasi chat di Surface Duo, browser akan otomatis terbuka di layar sebelah tanpa mengganggu percakapan. Di Galaxy Z Fold 8, pengguna harus mengaktifkan mode layar terbagi secara manual lewat menu atau drag-and-drop.
Bowden menilai pendekatan manual ini membuatnya jarang menggunakan fitur multitasking di foldable lain. "Saya tidak pernah multitasking di ponsel lipat biasa, tapi di Surface Duo saya selalu menjalankan dua aplikasi berdampingan karena itu terjadi otomatis," ujarnya. Ia berharap Samsung menambahkan opsi di OneUI agar sistem bisa meniru perilaku multitasking ala Surface Duo.
Kelebihan Lain: Kamera, Bobot, dan Layar Mulus
Di luar aspek multitasking, Galaxy Z Fold 8 unggul di banyak area. Kamera belakangnya jauh lebih baik daripada kamera tunggal 11 MP di Surface Duo. Bobot yang lebih ringan membuat perangkat ini lebih mudah digunakan dengan satu tangan. Layar lipat internal juga hampir mulus tanpa lipatan, berbeda dengan Surface Duo yang memiliki celah dan bezel tebal.
Bowden juga memuji dukungan pena (S Pen) pada Galaxy Z Fold 8, meski ia pribadi bukan pengguna pena. Sayangnya, Galaxy Z Fold 8 tidak memiliki engsel 360 derajat seperti Surface Duo, sehingga layar tidak bisa ditutup rapat tanpa ada yang terlihat. Namun, Bowden mencatat bahwa Microsoft sendiri sudah berencana beralih ke desain layar lipat tunggal untuk Surface Duo 3 sebelum proyek itu dihentikan.
Kesimpulan: Layak untuk Mantan Pengguna Surface Duo?
Galaxy Z Fold 8 bukanlah pengganti sempurna untuk Surface Duo karena tidak memiliki layar ganda dan multitasking otomatis. Namun, bagi pengguna yang merindukan ponsel berlayar pendek dan lebar, perangkat ini adalah opsi terbaik yang tersedia saat ini. Dengan bobot lebih ringan, kamera lebih baik, dan layar mulus tanpa sekat, Galaxy Z Fold 8 menawarkan pengalaman yang lebih matang.
Bowden menutup dengan harapan agar tren ponsel beraspek rasio pendek-lebar terus berlanjut. "Terima kasih Microsoft telah menunjukkan bahwa rasio aspek pendek dan lebar berfungsi untuk ponsel pintar. Mungkin butuh waktu lebih lama bagi yang lain untuk meniru, tapi kabar baiknya orang-orang akhirnya mulai sadar," pungkasnya. Galaxy Z Fold 8 sudah tersedia di pasar global dan diperkirakan masuk Indonesia dalam waktu dekat dengan harga mulai Rp 24 jutaan.