KALIMANTAN SELATAN — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi pertama Kamis (22/10) di level 5.418,99, naik 1,70% atau 90,63 poin dari posisi pembukaan 5.247,97. Penguatan indeks ditopang lonjakan saham berkapitalisasi besar, terutama BREN dan BYAN yang masuk kategori saham terkonsentrasi tinggi. Meski begitu, tekanan jual masih mendominasi mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG sempat dibuka melemah di level 5.247,97 sebelum berbalik arah ke zona hijau hingga penutupan sesi pertama. Kenaikan indeks sebesar 90,63 poin sepanjang sesi mengindikasikan arus beli kembali masuk ke saham-saham bobot besar setelah tekanan di awal perdagangan.
Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melonjak 7,41% ke level Rp 2.320, sementara PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menguat 6,08% ke level Rp 10.900. Kedua saham masuk dalam daftar saham terkonsentrasi tinggi (HSC), sehingga kenaikannya berpengaruh langsung terhadap bobot IHSG.
Selain BREN dan BYAN, saham perbankan pelat merah turut menopang pergerakan indeks. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 2,43% ke level Rp 3.790, disusul BBNI dan BBRI yang masing-masing menguat 2,2% dan 1,1%.
Meski IHSG menguat, tekanan jual masih membayangi mayoritas saham di BEI. Sebanyak 472 saham melemah, berbanding 212 saham yang menguat, sementara 105 saham bergerak stagnan.
Sejumlah saham pemberat indeks mencatat koreksi. PT BOGA (BOGA) terkoreksi 6,33% ke level Rp 1.405, PT DNET (DNET) turun 2,81% ke level Rp 9.525, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah 0,47% ke level Rp 5.250.
Aktivitas perdagangan saham hingga akhir sesi pertama tercatat ramai. Nilai transaksi mencapai Rp 9,191 triliun dengan volume perdagangan 18,90 miliar saham dan frekuensi transaksi 1,086 juta kali.
Kapitalisasi pasar BEI pada periode yang sama tercatat Rp 9.567 triliun. Angka ini mencerminkan skala perdagangan yang tetap besar meski jumlah saham yang menguat lebih sedikit dibanding yang melemah.
Penguatan IHSG yang ditopang segelintir saham bobot besar menjadi sinyal bahwa kenaikan indeks belum tentu mencerminkan perbaikan merata di seluruh pasar. Investor perlu mencermati komposisi saham penggerak sebelum menyimpulkan arah tren sesi berikutnya.
Perhatian pelaku pasar akan tertuju pada kelanjutan sesi kedua, terutama apakah arus beli di BREN, BYAN, dan saham perbankan bertahan atau justru berbalik menjadi aksi ambil untung.