Telkom hingga BCA Siapkan Buyback Triliunan Rupiah di Tengah Gejolak IHSG

Penulis: Reza Maulana  •  Rabu, 21 Oktober 2026 | 12:52:01 WIB
Emiten di BEI menyiapkan buyback saham dengan anggaran gabungan triliunan rupiah untuk menopang harga saham.

KALIMANTAN SELATAN — Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia menyiapkan pembelian kembali saham dengan anggaran gabungan yang mencapai triliunan rupiah. Langkah ini diambil untuk menopang harga saham dan memberi nilai tambah bagi pemegang saham di tengah tekanan pasar modal. Emiten perbankan hingga telekomunikasi masuk dalam daftar tersebut.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi emiten dengan anggaran buyback paling besar dalam daftar ini, yakni maksimal Rp4 triliun. Program tersebut sudah mendapat restu dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 8 Juni 2026 dan berlaku hingga 8 Juni 2027. Per 19 Oktober 2026, sisa alokasi yang belum terpakai masih di atas Rp3 triliun.

Perusahaan pelat merah itu mempercepat pelaksanaan buyback dengan memakai kas internal. Manajemen mempertimbangkan kondisi pasar, posisi kas, kebutuhan operasional, serta rencana investasi sebelum mengeksekusi pembelian.

"Buyback menjadi bagian dari strategi alokasi modal perusahaan untuk mendukung penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham," ujar Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno.

BCA Perpanjang Periode Buyback hingga 23 Oktober

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menjalankan program buyback pada 19-23 Oktober 2026. Jadwal tersebut diperpanjang dari rencana awal yang berakhir 21 Oktober 2026. Aksi ini melanjutkan program yang sudah direalisasikan pada April dan Juni 2026.

Berdasarkan persetujuan RUPST 12 Maret 2026, program buyback BCA berlaku sampai 11 Maret 2027, kecuali dihentikan lebih cepat sesuai ketentuan. Perseroan menyatakan pembelian kembali saham tidak berdampak material terhadap kinerja keuangan maupun kegiatan usaha.

BNI Lanjutkan Buyback, Pantau Ruang Perpanjangan

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) meneruskan program yang diumumkan lewat keterbukaan informasi pada Juli 2026. Periode pelaksanaan dijadwalkan sampai 26 Oktober 2026. Perseroan mencermati kemungkinan memperpanjang periode dengan melihat ruang pembelian yang telah disetujui dalam RUPS.

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menyatakan pelaksanaan buyback dilakukan secara terukur. "Pertimbangannya mencakup kondisi pasar, kecukupan modal, serta prinsip kehati-hatian dan tata kelola perusahaan," kata Okki.

Hingga Agustus 2026, BNI membukukan total aset Rp1.434,1 triliun, kredit Rp977,2 triliun, dan dana pihak ketiga Rp1.124,7 triliun. Laba bersih perseroan pada periode yang sama mencapai Rp14,33 triliun.

BTN Masih Kaji, Belum Tetapkan Anggaran

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) belum memutuskan periode maupun nilai buyback. Direktur Utama BTN Nixon L P Napitupulu mengatakan kajian mencakup kondisi pasar, kebutuhan strategis, kecukupan modal, dan pendanaan ekspansi bisnis.

BTN pernah menyiapkan dana Rp275 miliar untuk buyback pada 2020, saat pasar modal tertekan pandemi Covid-19. Untuk rencana terbaru, perseroan belum mengumumkan besaran anggaran. Nixon menegaskan keputusan akhir akan mempertimbangkan kondisi keuangan dan kepentingan seluruh pemegang saham, sambil tetap fokus pada pembiayaan perumahan dan transformasi beyond mortgage.

Mengapa Buyback Ramai di Tengah Tekanan Pasar

Pembelian kembali saham menjadi salah satu opsi korporasi ketika harga dinilai belum mencerminkan nilai fundamental. Aksi ini bisa menopang stabilitas harga, memperbaiki rasio laba per saham, dan menjadi sinyal kepercayaan manajemen terhadap prospek usaha.

Namun, efeknya tidak seragam. Harga saham tetap dipengaruhi kinerja emiten dan sentimen pasar secara keseluruhan. Sebagian perusahaan sudah menetapkan anggaran dan jadwal, sementara yang lain masih menimbang ruang fiskal dan kebutuhan modal.

Bagi investor, buyback perlu dibaca bersama indikator lain seperti pertumbuhan kredit, kualitas aset, dan rasio kecukupan modal, terutama untuk emiten perbankan yang mendominasi daftar ini.

Reporter: Reza Maulana
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top