BANJARMASIN — Tim Korsahli Mabes Polri yang terdiri dari Andy Soebjakto, Edi Hasibuan, dan Kombes Pol Deddy meninjau langsung sejumlah titik penanganan karhutla selama kunjungan kerja empat hari di Kalimantan Selatan. Dari peninjauan lapangan, tim menemukan sejumlah dinamika penting yang menjadi bahan masukan bagi pimpinan pusat maupun daerah.
Salah satu temuan yang paling disorot tim adalah solidnya kerja sama antara Polri dan masyarakat dalam memadamkan api. Warga bersama petugas disebut bekerja tanpa kenal lelah di berbagai front pemadaman.
Semangat pengabdian tinggi itu, menurut tim, menjadi modal penting dalam menghadapi karhutla yang melanda sejumlah wilayah Kalsel. Kolaborasi tersebut dinilai berjalan efektif di lapangan.
Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) swadaya dan masyarakat setempat tercatat terlibat aktif sejak hari pertama penanganan bencana karhutla. Keterlibatan mereka tidak menunggu instruksi, tetapi bergerak langsung membantu petugas di titik-titik rawan api.
Peran BPK swadaya menjadi penopang kekuatan pemadaman di wilayah yang aksesnya terbatas. Tim Korsahli menilai keterlibatan warga ini mempercepat penanganan di berbagai front.
Kunjungan 12–15 Oktober 2026 tidak hanya bersifat pemantauan. Tim juga menyiapkan masukan strategis bagi pimpinan di tingkat pusat maupun daerah agar penanganan karhutla ke depan lebih terkoordinasi.
Masukan itu disusun berdasarkan temuan lapangan, termasuk pola kerja sama yang sudah berjalan antara Polri dan masyarakat. Hasil peninjauan akan menjadi bahan evaluasi kebijakan penanganan karhutla di Kalsel.
Tim Korsahli Mabes Polri secara khusus mengapresiasi kerja keras petugas dan warga yang tetap bertahan di front pemadaman. Apresiasi itu disampaikan langsung saat kunjungan kerja berlangsung.
Sinergi yang terbangun, menurut tim, menjadi contoh bagaimana penanganan bencana bisa berjalan ketika aparat dan masyarakat bergerak bersama. Pola ini dinilai layak dipertahankan untuk menghadapi potensi karhutla berikutnya.