Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 17.904 per Dolar AS, Tekanan Global Meningkat

Penulis: Toni Haryadi  •  Senin, 05 Oktober 2026 | 10:24:01 WIB
Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke level Rp 17.904 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

KALIMANTAN SELATAN — Nilai tukar rupiah melemah 22 poin atau sekitar 0,12% ke level Rp 17.904 per dolar AS pada pembukaan perdagangan, dari posisi penutupan Jumat (2/10) di Rp 17.882. Pelemahan dipicu eskalasi ketegangan AS-Iran yang meningkatkan risiko inflasi global, seiring rencana penambahan 10.000 tentara AS ke Timur Tengah.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah dibuka di level Rp 17.904 per dolar AS, melemah tipis dari penutupan sebelumnya. Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan datang dari kombinasi faktor eksternal dan domestik yang saling memperkuat.

Eskalasi AS-Iran Picu Kekhawatiran Pasar Energi

The Wall Street Journal melaporkan AS akan mengirim tambahan 10.000 tentara ke Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump juga berencana melancarkan kembali serangan bom terhadap Iran pada November, setelah pemilihan umum paruh waktu AS.

Pasar energi global menjadi sorotan utama karena potensi gangguan pasokan melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi distribusi minyak dunia.

"Potensi eskalasi konflik ini membuat para pelaku pasar terus memantau Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global. Hal ini membuat risiko inflasi cenderung meningkat, yang mendukung argumen bagi kebijakan moneter yang lebih ketat," ungkap Ibrahim dalam keterangannya.

Sikap The Fed Masih Menekan Mata Uang Negara Berkembang

Para pejabat The Fed yang dipimpin Wakil Ketua Philip Jefferson menyatakan perekonomian AS berada di dekat kondisi lapangan kerja maksimal. Mereka menekankan perlunya sikap sabar terkait penyesuaian suku bunga.

Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, tetap bersikap hawkish dengan menyerukan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Posisi ini memperkuat dolar AS terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.

BI Perluas Instrumen Operasi Moneter

Dari sisi domestik, Bank Indonesia memperluas surat berharga yang dapat digunakan sebagai underlying dalam operasi moneter. Kebijakan ini memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi sebagai instrumen yang diakui.

Ibrahim menilai langkah BI membuka ruang lebih besar bagi perbankan untuk mengelola likuiditas sekaligus mendorong aktivitas transaksi surat berharga korporasi di pasar keuangan.

"Transmisi kebijakan moneter perlu mengalir melalui pasar uang dan pasar valuta asing agar dapat memengaruhi transaksi serta pembiayaan dunia usaha dan rumah tangga. BI melalui perluasan underlying ini, perbankan mendapatkan instrumen yang lebih beragam dalam mengelola likuiditasnya," kata dia.

Korporasi penerbit surat berharga juga memperoleh dukungan terhadap likuiditas dan aktivitas perdagangan instrumennya di pasar sekunder. Kebijakan ini menjadi bagian dari penguatan operasi moneter yang lebih berorientasi pasar dan terintegrasi dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing.

Proyeksi Analis: Rupiah Fluktuatif dengan Kecenderungan Melemah

Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.750 hingga Rp 18.050 per dolar AS.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, melihat peluang penguatan rupiah dari sisi penurunan harga minyak mentah dunia. Rencana pelepasan cadangan minyak oleh negara G7 menjadi faktor yang menahan laju pelemahan.

"Namun penguatan diperkirakan terbatas oleh imbal hasil obligasi AS yang masih tinggi. Range (penguatan rupiah ke level) Rp 17.800-17.850 (per dolar AS)," kata Lukman.

Bagi pelaku usaha yang memiliki eksposur dolar AS, pelemahan rupiah menambah tekanan biaya impor bahan baku. Investor asing juga cenderung menahan posisi di aset berdenominasi rupiah selama ketidakpastian global belum mereda.

Reporter: Toni Haryadi
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top