Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 46 poin atau 0,26 persen menjadi Rp17.864 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.818. Analis Doo Financial Lukman Leong menilai pelemahan dipicu lonjakan harga minyak dunia pasca Iran meragukan kemajuan perundingan perdamaian dengan AS. Rupiah diprediksi bergerak di kisaran Rp17.800-Rp17.950 per dolar AS.
JAKARTA — Pergerakan rupiah kembali tertekan di pasar valuta asing. Tekanan datang dari dua arah sekaligus: lonjakan harga minyak mentah dunia dan penguatan dolar AS di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Lukman Leong menyebut harga minyak kembali melonjak setelah Iran meragukan kemajuan dalam perundingan perdamaian dengan AS.
"Harga minyak kembali melonjak setelah Iran meragukan kemajuan dalam perundingan perdamaian," katanya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Harga Minyak Dunia Naik Hingga 3,86 Persen
Mengutip Xinhua, harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman November naik 1,64 dolar AS atau 1,81 persen dan ditutup pada level 92,16 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Minyak mentah Brent untuk pengiriman November juga naik 3,83 dolar atau 3,86 persen dan ditutup pada level 103,08 dolar AS per barel di bursa London ICE Futures.
Lonjakan harga minyak dunia biasanya berdampak langsung pada negara importir seperti Indonesia. Beban impor energi yang membesar menekan neraca perdagangan dan pada akhirnya melemahkan mata uang.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Fed Perkuat Dolar AS
Selain faktor minyak, rupiah juga tertekan oleh penguatan dolar AS. Pasar memperkirakan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
"70 persen kenaikan 25 bps (basis points) di bulan Oktober dan lebih dari 50 persen kenaikan lagi di Desember," ujar Lukman.
Ekspektasi tersebut membuat imbal hasil aset dolar AS lebih menarik, sehingga modal mengalir keluar dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
Prediksi Pergerakan Rupiah ke Depan
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, Lukman memprediksi rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS.
Rentang prediksi itu mencerminkan ketidakpastian yang masih tinggi. Pasar akan mencermati perkembangan perundingan AS-Iran serta sinyal kebijakan moneter Federal Reserve dalam beberapa pekan ke depan.