KALIMANTAN SELATAN — Astronom amatir Indonesia Marufin Sudibyo menduga bola api yang terbang di langit Klaten, Jawa Tengah, merupakan objek buatan manusia, bukan meteor atau sampah antariksa. Dugaan itu muncul setelah video benda tersebut viral di media sosial dan dilaporkan terlihat tiga kali dalam satu malam, yakni pukul 18.30, 20.00, dan 22.00 WIB. Penjelasan ini sekaligus menepis spekulasi warga soal benda misterius dari luar angkasa.
Marufin menyampaikan tafsirannya soal objek yang terlihat di sejumlah wilayah Klaten tersebut. Menurut dia, benda itu terbang di ketinggian rendah sehingga kecil kemungkinan berasal dari luar atmosfer Bumi.
"Tafsiran saya, obyek ini buatan manusia yang terbang di ketinggian rendah. Kemungkinan layang-layang yang diberi lampu, atau balon gas yang juga diberi lampu," kata Marufin, melansir Detik, Rabu (16/9).
Marufin menyebut ada dua faktor yang membuatnya menduga objek tersebut bukan benda langit. Pertama, objek itu tidak terkesan bergerak. Kedua, benda tersebut tidak menunjukkan bentuk menyerupai ekor seperti meteorit.
"Maka hemat saya, objek ini berada dalam jarak yang relatif jauh dari pengamat dan bergerak dengan kecepatan rendah, sehingga seakan-akan berhenti di udara," jelasnya.
Menurut penuturan warga setempat, bola api misterius itu terlihat pada Selasa (15/9) malam di sejumlah wilayah. Benda tersebut muncul tiga kali di tiga waktu berbeda, yakni 18.30 WIB, 20.00 WIB, dan 22.00 WIB.
Marufin menegaskan cahaya tersebut bukan meteor terang. Alasannya, tidak terlihat kilatan cahaya khas meteor maupun kondisi langit yang mendadak menjadi terang saat objek itu muncul.
"Objek itu bukan meteor terang [karena tidak kelihatan kilatan cahaya khas dan kondisi mendadak terang]," jelas dia.
Penjelasan itu penting karena meteor terang biasanya meninggalkan jejak cahaya singkat yang sangat terang. Pada kasus di Klaten, tidak ada indikasi kilatan semacam itu.
Marufin juga menepis kemungkinan cahaya itu merupakan re-entry, yakni masuknya kembali sampah antariksa ke atmosfer Bumi. Menurut dia, tidak terlihat fragmen-fragmen atau bentuk menyerupai ekor pada objek tersebut.
Ia pun menilai benda itu bukan jejak kondensasi atau contrails pesawat. Kondisi malam membuat contrails pesawat tidak lagi dapat terlihat.
"Juga bukan merupakan jejak kondensasi pesawat, karena dalam situasi malam itu sudah tidak bisa dilihat lagi contrail-nya," ujar Marufin.
Dengan tiga kemungkinan utama yang ditepis, dugaan objek buatan manusia seperti layang-layang berlampu atau balon gas berpeluang besar menjadi penjelasan paling masuk akal.
Video bola api di Klaten menyebar cepat di media sosial dan memicu beragam spekulasi. Marufin mengingatkan bahwa objek terbang di ketinggian rendah dengan kecepatan rendah kerap tampak seperti benda langit saat direkam kamera ponsel.
Jarak pengamat ke objek yang relatif jauh membuat benda bergerak lambat seolah berhenti di udara. Efek optik inilah yang sering memperkuat kesan misterius di mata awam.
Bagi pengguna smartphone yang merekam fenomena serupa, sejumlah informasi dasar bisa membantu membaca situasi. Catat waktu kemunculan, arah gerak objek, dan durasi visibilitasnya.
Data semacam itu memudahkan astronom atau pengamat langit memberi penilaian awal. Semakin lengkap konteks yang disertakan, semakin kecil peluang video memicu hoaks atau spekulasi liar.
Hingga penjelasan Marufin disampaikan, belum ada laporan resmi yang mengonfirmasi jenis objek yang terlihat di Klaten. Dugaan objek buatan manusia masih menjadi tafsiran paling kuat berdasarkan karakter gerak dan bentuk yang terekam.