KALIMANTAN SELATAN — Danantara Indonesia memastikan proyek hunian LRT City milik PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) bakal dilanjutkan dengan desain dan model bisnis baru. Keputusan itu muncul di tengah desakan konsumen yang menuntut kepastian pendanaan, jadwal pembangunan, dan target serah terima unit. Dari 358 respons konsumen, sebanyak 329 memilih pengembalian dana ketimbang menunggu proyek rampung.
Perwakilan konsumen LRT City, Rian D Subagio, menyatakan pihaknya menyambut baik komitmen keberlanjutan pembangunan, tetapi menilai pengumuman saja tidak cukup. Ia meminta kepastian pendanaan, jadwal tertulis per proyek, target serah terima, dan penanggung jawab yang bisa dimintai penjelasan bila proyek kembali meleset dari jadwal.
Sampai 2 Oktober 2026, perwakilan konsumen belum menerima jadwal baru pembangunan, baik dari BP BUMN maupun pengembang. Menurut Rian, kepercayaan konsumen hanya bisa dipulihkan lewat kemajuan pembangunan yang dapat dipantau dan pemenuhan kewajiban kepada pembeli.
Mayoritas Konsumen Pilih Uangnya Kembali
Survei internal konsumen LRT City yang digelar lewat Google Form pada 19–25 September 2026 mencatat 358 respons. Sebanyak 329 respons memilih refund, sementara 29 respons memilih menunggu pembangunan selesai.
Setiap respons mewakili satu unit, sehingga angka itu tidak menggambarkan jumlah konsumen yang berbeda. Rian juga menegaskan data tersebut bukan potret seluruh konsumen ADCP dan bukan pula jumlah permohonan refund yang sudah disetujui pengembang.
Meski ada wacana pembangunan kembali, konsumen berharap hak mereka yang telah mengajukan refund tidak diabaikan. Mereka menuntut kejelasan soal nilai refund, mekanisme pembayaran, dan tanggal pembayaran.
"Konsumen telah menanggung penundaan dan beban pembayaran; mereka membutuhkan penyelesaian atas dana yang sudah dikeluarkan, bukan sekadar janji pembangunan baru," kata Rian kepada Katadata.co.id, Jumat (2/10).
Beban Berbeda di Tiap Kelompok Pembeli
Konsumen tunai menghadapi dana yang tertahan tanpa bisa memanfaatkan unit. Pembeli dengan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) tetap harus mencicil angsuran plus bunga meski unit belum bisa dihuni.
Yang berhenti membayar angsuran justru berisiko menanggung tunggakan, denda, penagihan, hingga masalah status kredit. Perbedaan beban inilah yang membuat konsumen menuntut mekanisme kompensasi bila target pembangunan kembali tidak tercapai.
"Kesediaan menunggu bukan persetujuan untuk menerima penundaan tanpa batas," ujar Rian.
Hingga 2 Oktober 2026, belum ada kejelasan tertulis soal mekanisme, nominal, maupun tanggal pembayaran refund. Konsumen masih menunggu hasil yang dijanjikan pada 10–15 Oktober 2026.
Kas ADCP Menipis, Konsumen Mulai Pesimistis
Rian mencermati laporan keuangan ADCP 2024. Kas dan setara kas perusahaan turun dari sekitar Rp 283,69 miliar menjadi Rp 35,40 miliar, sementara arus kas operasi tercatat negatif sekitar Rp 64,79 miliar.
Kondisi itu menjadi dasar konsumen mempertanyakan kemampuan pendanaan ADCP untuk menyelesaikan pembangunan sekaligus memenuhi permintaan refund. "Dari semula optimistis, saya menjadi lebih pesimistis karena janji penyelesaian perlu ditopang kemampuan keuangan yang nyata," kata Rian.
Danantara Ubah Desain dan Model Bisnis
COO Danantara Indonesia sekaligus kepala BP BUMN Dony Oskaria memastikan proyek LRT City diteruskan. Penataan ulang mencakup desain fasad, model bisnis, hingga area komersial, dengan arsitek baru yang akan direkrut.
"Nomor satu keputusannya kita akan meneruskan project ini. Kita akan hire arsitek baru untuk melakukan proses. Fasadnya akan kita ubah, begitu juga desain model bisnis, termasuk komersial area-nya," ujar Dony dalam keterangannya, dikutip Jumat (2/10).
Dari sisi bisnis, proyek ini dinilai masih punya potensi karena menyimpan aset lahan bernilai di lokasi strategis. Penataan diarahkan tidak hanya menyelesaikan pembangunan, tetapi juga menjaga keberlanjutan dan kelayakan komersialnya.
Bagi konsumen, kelanjutan proyek LRT City kini bergantung pada dua hal yang saling terkait: kesiapan pendanaan ADCP dan kejelasan skema refund bagi mereka yang memilih menarik dana. Tanpa keduanya, janji pembangunan kembali berisiko kembali berhenti di atas kertas.