KALIMANTAN SELATAN — Gabriel Perez, operator teleprompter yang bertugas menangani hampir semua naskah pidato Presiden Donald Trump, harus kehilangan pekerjaannya setelah terbukti memanfaatkan akses istimewanya untuk bertaruh di platform prediksi Kalshi. Berdasarkan laporan ABC News, Perez telah mengakui sejumlah transaksi judi tersebut kepada investigator dan saat ini ditempatkan dalam status cuti tanpa bayaran.
Perez diduga memasang taruhan pada puluhan pidato presiden, termasuk Pidato Kenegaraan (State of the Union), sambutan di Forum Ekonomi Dunia pada Januari lalu, serta pidato di upacara Medal of Honor pada Maret. Total keuntungan yang diraupnya dari aktivitas ini mencapai lebih dari 100.000 dolar AS.
Yang membuat kasus ini menarik, Perez disebut-sebut sebagai orang terakhir yang meninjau naskah pidato sebelum presiden membacakannya. Hal ini memberinya keunggulan informasi yang tidak dimiliki publik. Lebih dari itu, Perez bahkan dilaporkan membatalkan taruhan tertentu ketika Trump mulai berimprovisasi di luar naskah—tanda bahwa ia benar-benar memanfaatkan akses eksklusifnya.
Platform Kalshi, yang menjadi tempat Perez bertaruh, mengaku langsung menandai dan merujuk transaksi mencurigakan tersebut ke CFTC. Dalam pernyataan resminya, Kalshi menyebut pihaknya telah "segera menandai dan merujuk" perdagangan tersebut kepada otoritas.
Di sisi lain, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan bahwa Presiden Trump sudah mengetahui tindakan Perez. Dalam konferensi pers, Leavitt menyebut aksi stafnya itu sebagai "sangat disayangkan" dan "aib." Ia menambahkan bahwa Perez sudah diskors tanpa gaji dan "tidak akan lagi bekerja di sini."
Pejabat dari CFTC, badan yang saat ini mengawasi platform taruhan seperti Kalshi, dilaporkan bersedia menyelesaikan kasus ini di luar pengadilan dengan syarat Perez mengembalikan seluruh kemenangannya. Langkah ini menunjukkan bahwa regulator lebih memilih pemulihan dana ketimbang proses hukum yang panjang.
Kasus Perez bukanlah yang pertama. Pada April lalu, Kalshi memperkenalkan kebijakan baru yang melarang politisi dan atlet bertaruh pada pemilihan atau pertandingan mereka sendiri. Tiga kandidat politik bahkan sempat diskors karena melanggar aturan tersebut.
Pada Juni, Kalshi kembali memperketat aturan dengan mewajibkan pengguna mengungkapkan tempat kerja mereka sebelum memasang taruhan tertentu. Namun, upaya ini tampaknya belum cukup untuk mencegah praktik insider trading.
Di sisi regulasi, upaya negara bagian untuk mengatur platform prediksi seperti Kalshi kerap menemui jalan buntu. Setelah New Jersey melarang Kalshi beroperasi, Pengadilan Banding AS memutuskan bahwa negara bagian tidak berhak melarang platform tersebut, sehingga kewenangan penuh berada di tangan CFTC.
Kasus Perez menjadi pengingat bahwa celah regulasi masih terbuka lebar, terutama ketika akses istimewa terhadap informasi sensitif bisa dengan mudah dikonversi menjadi keuntungan pribadi di pasar prediksi yang minim pengawasan.