BANJARBARU — Kebakaran yang berlangsung sekitar pukul 17.00 WITA itu tak hanya dipantau dari luar garis api. Jenderal polisi bintang dua tersebut turut memegang selang dan menyemprotkan air ke lahan yang terbakar.
Penanganan di lahan gambut mengandalkan cairan surfaktan hasil inovasi Bidang Laboratorium Forensik (Bidlabfor) Polda Kalsel. Cairan itu dipakai untuk mempercepat pemadaman sekaligus menurunkan suhu panas pada lahan gambut.
Mengapa Api di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan
Rosyanto menjelaskan bahwa api di lahan gambut dapat merambat dan bertahan di bawah permukaan tanah. Pemadaman dinilai tidak cukup hanya menyasar kobaran api yang terlihat di permukaan.
"Penanganan ini menjadi penting karena api di lahan gambut dapat merambat dan bertahan di bawah permukaan tanah. Karena itu, pemadaman tidak cukup hanya menyasar kobaran api yang terlihat di permukaan," jelasnya.
Penggunaan surfaktan diharapkan mematikan bara api di bawah tanah sekaligus mengurangi kepulan asap pekat yang mengganggu kualitas udara. Kabut asap sendiri disebut telah mengepung wilayah Kalimantan Selatan.
Drone Thermal Petakan Titik Panas Secara Real-Time
Selain pemadaman langsung di lapangan, Polda Kalsel mengerahkan drone thermal untuk memetakan sebaran titik panas. Teknologi itu digunakan untuk memperoleh data titik api secara lebih presisi dan real-time.
Kombinasi pemadaman darat dan pemanfaatan teknologi menjadi bagian dari upaya Polda Kalsel mempercepat penanganan karhutla. Upaya tersebut diharapkan menekan penyebaran kebakaran, terutama di lahan gambut yang berpotensi menyimpan bara api di bawah permukaan tanah.
Penanganan karhutla di Banjarbaru menjadi sorotan karena kabut asap yang menyelimuti Kalsel turut berdampak pada kualitas udara warga. Polda Kalsel belum merinci luas lahan yang terbakar maupun jumlah titik panas yang masih terpantau.