Guru Haji Saiful Anshari memaknai tafa'ul sebagai keyakinan bahwa apa yang dilakukan seseorang bisa kembali kepada dirinya sendiri, seperti bola ping pong yang memantul balik. Pesan itu disampaikannya dalam tausyiah usai Shalat Subuh di Masjid Assa'adah Komplek Beruntung Jaya, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kajian rutin bertema Sifat 20 atau tarekat Asy'ariah itu juga membahas larangan mencemooh orang lain.
BANJARMASIN — Dalam kajian rutin bertema Sifat 20 atau tarekat Asy'ariah, Guru Haji Saiful Anshari menyampaikan tausyiah di hadapan jamaah Masjid Assa'adah Komplek Beruntung Jaya, Banjarmasin. Ia menjelaskan makna tafa'ul dan kaitannya dengan sikap seseorang terhadap orang lain. Kajian digelar usai Shalat Subuh, Selasa.
"Tafa'ul itu bagaikan orang main ping pong, yaitu bolanya bisa kembali kepada diri sendiri," ujar Guru Saiful dalam tausyiahnya.
Guru Saiful mengingatkan jamaah agar tidak sekali-kali melakukan "mawada", yakni menciber atau mencemooh orang lain. Menurutnya, perbuatan itu berpotensi kembali kepada pelakunya sendiri. Bukan hanya kepada diri sendiri, tetapi bisa juga menimpa keluarga seperti anak dan cucu.
"Karena mawada orang lain bisa kembali kepada kita. Kalau tidak kepada diri kita sendiri, bisa saja nanti kepada keluarga kita seperti anak cucu kita," kata Guru Saiful yang pernah menimba ilmu agama ke Pulau Jawa.
Ia memberi contoh saat berada di tanah haram, Mekkah atau Madinah. Seseorang yang mencoba menjengkol orang yang sedang batuk, dalam hitungan sekitar dua menit, bisa terkena dampaknya sendiri.
Guru Saiful yang pernah mondok di Pondok Pesantren Al Mursyidul Amin Pemangkih, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel, itu juga berpesan soal sikap saat melihat kemungkaran. Menurutnya, lebih baik mendoakan agar orang yang bersangkutan mendapat hidayah.
Pesan itu disampaikan sebagai pengasuh salah satu pondok tahfiz atau penghafal Al-Qur'an di Banjarmasin, kota yang dikenal sebagai "kota seribu sungai". Pesantren Al Mursyidul Amin Pemangkih sendiri berjarak sekitar 154 km ke utara dari Banjarmasin.
Pada kesempatan yang sama, Guru Saiful menyebut dunia sebagai gudang sakit hati karena penuh tipu daya. Ia membandingkannya dengan alam akhirat di surga yang penuh kesenangan dan kebahagiaan.
"Beda dengan alam akhirat di surga penuh dengan kesenangan/kebahagiaan. Misalnya mau menyabu pun tidak masalah," pungkasnya sambil canda.
Kajian rutin Sifat 20 atau tarekat Asy'ariah yang dipimpin Guru Saiful menjadi salah satu kegiatan keagamaan di Masjid Assa'adah Komplek Beruntung Jaya. Jamaah mengikuti tausyiah tersebut setelah menunaikan Shalat Subuh berjamaah.