Rupiah Melemah 46 Poin ke Rp17.864 per Dolar AS, Dipicu Lonjakan Harga Minyak Dunia

Penulis: Reza Maulana  •  Kamis, 24 September 2026 | 13:05:32 WIB
Nilai tukar rupiah melemah 46 poin menjadi Rp17.864 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 46 poin atau 0,26 persen menjadi Rp17.864 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.818. Analis Doo Financial Lukman Leong menilai pelemahan ini dipengaruhi lonjakan harga minyak dunia setelah Iran meragukan kemajuan perundingan perdamaian dengan Amerika Serikat. Rupiah juga tertekan penguatan dolar AS seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.

JAKARTA — Pergerakan rupiah pada pembukaan perdagangan Kamis menempatkan mata uang Garuda di level Rp17.864 per dolar AS, turun 46 poin dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.818. Pelemahan terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak mentah dunia yang kembali menguat.

Analis Doo Financial Lukman Leong menyebut kenaikan harga minyak menjadi salah satu pemicu utama tekanan terhadap rupiah. Iran dinilai meragukan kemajuan perundingan perdamaian dengan AS, sehingga pasar energi kembali bergejolak.

Harga Minyak Mentah Naik di Dua Bursa Utama

Mengutip Xinhua, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik 1,64 dolar AS atau 1,81 persen dan ditutup pada level 92,16 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman November juga naik 3,83 dolar AS atau 3,86 persen dan ditutup pada level 103,08 dolar AS per barel di bursa London ICE Futures. Kenaikan dua acuan minyak dunia itu memperkuat tekanan terhadap mata uang negara importir energi, termasuk Indonesia.

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Perkuat Dolar AS

Selain faktor minyak, rupiah melemah seiring penguatan dolar AS di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Lukman memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Oktober mencapai 70 persen. Pasar juga melihat peluang lebih dari 50 persen untuk kenaikan lanjutan pada Desember.

"70 persen kenaikan 25 bps (basis points) di bulan Oktober dan lebih dari 50 persen kenaikan lagi di Desember," ujar Lukman.

Rupiah Diprediksi Bergerak di Rentang Rp17.800-Rp17.950

Berdasarkan kombinasi faktor eksternal tersebut, Lukman memproyeksikan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS.

Bagi pelaku usaha di daerah yang bergantung pada barang impor, pelemahan rupiah berarti biaya bahan baku berpotensi naik. Importir di Kalimantan Selatan, misalnya, perlu mencermati pergerakan kurs untuk menyusun rencana pembelian dalam beberapa pekan ke depan.

Pergerakan harga minyak dan sinyal suku bunga The Fed akan menjadi dua faktor utama yang menentukan arah rupiah pada perdagangan berikutnya.

Reporter: Reza Maulana
Sumber: kalsel.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top