KALIMANTAN SELATAN — Kisah Ferrari Luce adalah studi kasus paling ekstrem tentang jurang antara persepsi publik dan reaksi pasar. Saat diluncurkan di Roma pada Mei lalu, mobil listrik pertama Ferrari ini langsung dihujat kritikus dan investor. Saham Ferrari (RACE) ikut merosot. Bahkan Luca di Montezemolo, mantan bos Ferrari, sampai berkomentar bahwa logo kuda jingkrak "tak pantas" menempel di bodi mobil ini. Sebulan kemudian, direktur pemasaran Ferrari diganti.
Namun akhir pekan lalu, di lelang RM Sotheby's Monterey, Amerika Serikat, nasibnya berbalik total. Unit pertama yang disebut "Chassis 0" terjual dengan harga palu USD 40 juta atau sekitar Rp712 miliar. Taksiran awal lelang cuma USD 1,1 juta—hasil akhirnya 36 kali lipat dari estimasi.
Bandingkan dengan harga normalnya. Di China, Ferrari Luce dilepas seharga USD 586.600 atau sekitar Rp10,44 miliar, dan 88 unit langsung ludes seketika. Artinya, harga lelang Chassis 0 mencapai 62 kali lipat harga jual resmi.
Yang lebih menarik: RM Sotheby's melepas komisi pembeli untuk lot ini. Jadi angka Rp712 miliar itu murni harga palu, tanpa potongan apa pun. Seluruhnya masuk ke Ferrari Foundation, lembaga amal pabrikan untuk program pendidikan.
Kontras dengan kritik pedas saat peluncuran, permintaan pasar justru gila-gilaan. Seluruh jatah produksi 2026 yang hanya sekitar 500 unit habis terjual dalam waktu kurang dari dua bulan—padahal belum satu pun mobil dikirim ke pembeli. Ini menunjukkan bahwa basis pelanggan Ferrari, yang notabene kolektor dan investor, melihat Luce dari sudut yang berbeda dengan para pengkritiknya.
Kritik yang dilontarkan saat debut umumnya menyasar desain yang dianggap terlalu konservatif untuk mobil listrik dan kurang berani dibandingkan pesaing seperti Porsche Taycan atau Lucid Air. Namun hasil lelang ini membuktikan bahwa kelangkaan dan nilai koleksi tetap menjadi pertimbangan utama di segmen hypercar.
Beberapa catatan penting dari kasus ini:
Untuk pasar Indonesia, Ferrari Luce belum diumumkan resmi masuk. Dengan harga global yang sudah mencapai Rp10 miliar sebelum pajak, bisa dipastikan harganya akan jauh lebih tinggi jika masuk ke Tanah Air—belum termasuk pajak mewah dan bea masuk yang bisa menambah 50-100% dari harga dasar.
Fenomena Luce mengingatkan bahwa di segmen mobil koleksi, keputusan pembelian sering kali tidak rasional secara teknis. Kritik desain yang keras tidak menghentikan para kolektor untuk berebut unit pertama. Pertanyaannya sekarang: apakah Luce akan mempertahankan nilai jualnya di tangan pemilik kedua nanti, atau ini hanya euforia awal? Jawabannya baru akan terlihat dalam 2-3 tahun ke depan.