BANJAR — Tangan warga dan petugas masih sibuk memadamkan bara di sejumlah titik, sementara sumur-sumur di permukiman mulai mengering. Dua bencana musim kemarau itu kini berjalan beriringan di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, memaksa jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bekerja ekstra.
Berdasarkan Keputusan Bupati Banjar Nomor 188.45/312/KUM/BPBD/2026, status siaga darurat karhutla dan kekeringan resmi berlaku sejak 15 Juli hingga 30 September 2026. Keputusan ini diambil setelah data di lapangan menunjukkan peningkatan signifikan titik api dan meluasnya daerah yang kesulitan air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar, Wasis Nugraha, memaparkan bahwa dari total lahan terbakar, sekitar 31 hektare merupakan kawasan hutan. Sisanya didominasi lahan tidur dan semak belukar yang tidak produktif.
"Memang banyak yang terbakar lahan-lahan yang tidak produktif karena tidak dijaga, tidak dirawat, tidak dipelihara. Sifatnya lahan tidur, semak, dan beberapa hutan yang memang lokasinya jauh sulit dijangkau," jelas Wasis, Selasa (11/8/2026).
Lokasi kebakaran yang jauh dari permukiman menjadi kendala utama dalam proses pemadaman. Petugas kesulitan mencari sumber air untuk menyuplai tanki pemadam, sehingga api kerap membesar sebelum bisa dijinakkan.
Untuk memperkuat penanganan, Pemkab Banjar mengaktifkan satuan tugas (satgas) yang didukung posko induk dan posko lapangan. Sekitar 40 personel BPBD diterjunkan bersama unsur TNI, Polri, SKPD, relawan, PMI, dan Barisan Pemadam Kebakaran (BPK).
"Untuk lokasi yang memang jauh, titiknya jauh, itu memang ada kesulitan sumber airnya. Tetapi setiap kejadian kita juga bawa tangki air untuk air baku, proses pemadaman dan tentunya pembasahan di lokasi," terang Wasis.
Soal penyebab kebakaran, BPBD mengaku belum menemukan bukti adanya unsur kesengajaan manusia. "Sejauh pemantauan kami, kita belum menemukan langsung kesengajaan manusia. Tidak ada buktinya," katanya.
Dampak kemarau tak berhenti pada asap. BPBD mencatat kekeringan telah memutus akses air bersih bagi warga di 87 desa yang tersebar di 12 kecamatan. Untuk meringankan beban warga, sebanyak 140 tandon air telah dipinjam-pakaikan ke desa-desa terdampak.
Distribusi air bersih terus digencarkan ke lokasi-lokasi yang membutuhkan. Hingga saat ini, total volume air yang telah disalurkan mencapai 1.042.050 liter.
"Sejauh ini alhamdulillah masih bisa terlayani kebutuhan masyarakat yang sedang krisis air bersih," pungkas Wasis.
Penanganan karhutla dan kekeringan ini melibatkan kolaborasi lintas instansi, termasuk Balai Wilayah Sungai (BWS), Balai PU, TNI, Polri, serta relawan. BPBD memastikan seluruh sumber daya yang ada akan terus dikerahkan hingga masa siaga darurat berakhir pada akhir September mendatang.