KALIMANTAN SELATAN — Angka tersebut mengonfirmasi kekhawatiran yang selama ini disuarakan para ahli kesehatan anak. Pola konsumsi tinggi gula, garam, dan lemak pada makanan olahan disebut sebagai pemicu utama melonjaknya kasus hipertensi di kalangan generasi muda.
"Bagaimana ke depan, kita bersama tidak hanya ingin CKG sebagai salah satu upaya promotif preventif kita. Kedua, gemar hidup sehat. Kita sedang menggalakkan itu kepada masyarakat," ujar Cahyo, Sabtu (08/08/2026).
Pemerintah pusat dan provinsi disebut telah menjalankan langkah antisipasi melalui pemeriksaan kesehatan gratis dan edukasi publik. Namun, Cahyo menegaskan bahwa upaya preventif tidak akan optimal tanpa regulasi yang membatasi akses anak terhadap makanan tidak sehat.
Politisi Partai Gerindra itu menyoroti kebiasaan anak-anak yang kini gemar mengonsumsi makanan tinggi garam, berminyak, dan tinggi gula. Menurutnya, kebiasaan ini berbanding lurus dengan meningkatnya potensi penyakit degeneratif di usia muda.
"Pola hidup itu tidak hanya kebiasaan olahraga atau kebiasaan istirahat dari mereka, tetapi pola makan kan juga pengaruh. Sedangkan kalau misalnya senang makan manis-manis dan sembarangan, intinya kan ya pasti potensi penyakitnya banyak," tuturnya.
Cahyo mendesak pemerintah pusat untuk segera menerbitkan aturan yang mewajibkan setiap produk makanan mencantumkan informasi nilai gizi secara jelas dan mudah dibaca. Langkah ini dinilai krusial untuk melindungi konsumen, terutama orang tua, dalam memilih makanan sehat bagi keluarganya.
"Kami secara pribadi berharap adanya regulasi yang mengatur tentang kewajiban mencantumkan nilai gizi dari setiap makanan yang dikonsumsi masyarakat kita. Kandungan gizi, karena itu sangat berpengaruh," tegasnya.
Cahyo menilai penanganan hipertensi anak tidak bisa diserahkan kepada dinas kesehatan semata. Ia meminta jajaran RSUD milik Pemprov Jatim, puskesmas, posyandu, hingga kader Keluarga Sehat (KSH) dan kader Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial untuk aktif menyampaikan edukasi pola hidup sehat.
Media massa juga diminta mengambil peran dalam mengingatkan publik secara konsisten. "Ataupun teman-teman media untuk mengingatkan kepada masyarakat kita tentang pentingnya gemar hidup sehat," pungkasnya.
Temuan 2,21 juta anak dengan indikasi hipertensi ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk memperkuat data kesehatan sekolah. Tanpa intervensi kebijakan yang menyentuh industri pangan dan perilaku konsumsi, tren ini berpotensi membebani sistem kesehatan nasional dalam dua dekade mendatang.