BANJARBARU — Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel Ronny Eka Saputra mengatakan, OMC tahap pertama telah dijalankan pada 15-21 Juli 2026. Namun, operasi lanjutan belum bisa dieksekusi karena ketersediaan awan yang memadai untuk disemai belum terpenuhi.
“Memang semua tergantung pada situasi dan kondisi cuaca di lapangan, apabila memang awan sekitar memadai untuk disemai, kita akan segera laksanakan OMC,” ujarnya di Banjarbaru, Sabtu.
Sembari menunggu cuaca mendukung, pemprov mengoptimalkan operasi udara untuk mempercepat penanganan karhutla. Sebanyak empat unit armada disiagakan, terdiri dari satu helikopter patroli, dua helikopter pengebom air, dan satu pesawat multifungsi yang disiapkan untuk mendukung OMC serta patroli udara.
Ronny menjelaskan, armada tersebut memiliki wilayah operasi di seluruh Kalimantan Selatan. Jika tidak ada kejadian di satu wilayah, helikopter bisa digerakkan ke daerah lain yang membutuhkan penanganan.
Ketika kebakaran terjadi di kawasan prioritas atau Ring 1, pengerahan armada udara akan lebih dahulu difokuskan ke wilayah tersebut. Sementara itu, satu unit armada lainnya tetap melaksanakan patroli keliling untuk memantau potensi munculnya titik api.
“Pelaksanaan OMC tahap kedua akan kembali dipertimbangkan. Sementara kita maksimalkan dulu patroli darat, patroli udara, dan operasi helikopter water bombing untuk menekan risiko meluasnya karhutla selama musim kemarau ini,” kata Ronny.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turut memberikan dukungan logistik dan peralatan kepada Kalimantan Selatan. Bantuan tersebut berupa mesin pompa, selang, serta perlengkapan pendukung lainnya untuk memperkuat operasi pemadaman karhutla di lapangan.
Kombinasi antara kesiapan armada udara dan peralatan darat ini diharapkan mampu menekan meluasnya karhutla, terutama di titik-titik rawan yang selama ini kerap menjadi langganan kebakaran saat kemarau panjang melanda provinsi tersebut.