Pencarian

FJPI Kalsel Gelar Diskusi Perempuan dan Media, Wartawan Duta TV Evi Raih Kostum Terbaik

Sabtu, 29 Agustus 2026 • 17:17:31 WIB
FJPI Kalsel Gelar Diskusi Perempuan dan Media, Wartawan Duta TV Evi Raih Kostum Terbaik
Puluhan jurnalis perempuan Kalimantan Selatan mengikuti Silaturahmi dan Diskusi Reflektif FJPI Kalsel di Banjarmasin, Sabtu (29/8/2026).

BANJARMASIN — Puluhan jurnalis perempuan di Kalimantan Selatan mengikuti Silaturahmi dan Diskusi Reflektif yang digelar FJPI Kalsel di WakaKa Stage, Sabtu (29/8/2026). Acara yang mengusung tema "Perempuan dan Media: Merawat Kedaulatan Informasi, Menebar Keadilan" ini menjadi ajang bertukar pikiran sekaligus mempererat kebersamaan antarwartawan.

Meski berlangsung santai, diskusi yang menghadirkan tiga narasumber tersebut menyentuh persoalan serius tentang peran strategis jurnalis perempuan di tengah derasnya arus informasi digital. Suasana semakin hidup dengan adanya lomba pemakaian kostum yang melibatkan seluruh anggota.

Evi Duta TV dan Kak Ida Jadi Juara Kostum Terbaik

Rangkaian lomba yang dipandu Salmah, wartawan Banjarmasin Post, berhasil menghidupkan suasana. Canda dan tawa mewarnai jalannya acara, membuat para jurnalis yang biasanya bekerja di belakang meja redaksi tampil lebih santai dan kreatif.

Evi, wartawan Duta TV, terpilih sebagai peserta dengan kostum terbaik. Penghargaan serupa juga diberikan kepada Kak Ida, jurnalis senior, yang meraih juara pemakaian kostum dalam kategori busana. Keduanya mendapatkan hadiah sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan partisipasi mereka dalam memeriahkan kegiatan.

Kecepatan Tidak Boleh Mengalahkan Akurasi

Memasuki sesi inti, Ketua FJPI Kalsel Hj Sunarti menegaskan bahwa tantangan jurnalisme saat ini bukan lagi soal siapa yang paling cepat memberitakan. Menurutnya, justru yang paling penting adalah siapa yang mampu menghadirkan informasi yang benar, terverifikasi, dan dapat dipercaya oleh publik.

"Kecepatan tidak boleh mengalahkan akurasi. Bagi jurnalis, verifikasi bukan sekadar prosedur, tetapi bentuk tanggung jawab kepada publik," ujarnya.

Sunarti juga menekankan pentingnya prinsip saring sebelum sharing dan verifikasi sebelum publikasi. Ia mengingatkan media agar memastikan pemberitaan tidak memperkuat stigma, diskriminasi, maupun ketimpangan, termasuk terhadap perempuan. "Kritik boleh tajam, tetapi harus berpijak pada fakta dan kepentingan publik," tegasnya.

Ia menilai kehadiran jurnalis perempuan di ruang redaksi sangat penting untuk memperkuat keberagaman perspektif, terutama dalam mengangkat persoalan kelompok yang selama ini kurang mendapatkan ruang di pemberitaan.

Jurnalis Diminta Tak Menunggu Api Membesar

Sementara itu, praktisi media sekaligus Ketua Tim Berita TVRI Kalsel Dr. Hj Ratna Sari Dewi menyoroti kebiasaan media yang kerap baru ramai memberitakan bencana setelah dampaknya besar. Ia mencontohkan pemberitaan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sering kali menguat ketika api sudah membesar dan kabut asap mulai mengganggu masyarakat.

Padahal, karhutla merupakan ancaman yang memiliki pola berulang dan dapat diperkirakan, terutama saat musim kemarau maupun ketika terjadi fenomena iklim seperti El Niño. "Ini kejadian yang berulang dan bisa diprediksi. Karena kita sudah tahu kapan akan mengalami kemarau," ujarnya.

Menurut Dewi, media seharusnya membangun sistem peringatan dini melalui pemberitaan. Ketika ancaman kemarau panjang sudah diketahui, pers dapat mulai mempertanyakan kesiapan pemerintah, ketersediaan air, sarana pemadaman, hingga kondisi lahan yang rawan terbakar. "Selama ini kita sering hanya memberitakan peristiwa yang sudah terjadi atau akan terjadi, tanpa memberikan warning kepada para pemangku kepentingan tentang apa yang akan terjadi," katanya.

Ia menegaskan, fungsi preventif tersebut tetap harus dilakukan berdasarkan fakta, data, dan narasumber yang kompeten. "Cari narasumber yang kuat, cari akademisi untuk memperkuat analisa. Kita tidak boleh beropini, tetapi kita bisa mengarahkan agenda agar semua fokus pada preventif," tegasnya.

Perempuan Harus Naik Kelas di Tengah Perubahan Zaman

Ketua Pusat Studi Ekonomi Kreatif dan Kewirausahaan LPPM ULM Dr. Hj. Hastin Umi Anisah menambahkan, perempuan, termasuk jurnalis, harus terus meningkatkan kapasitas dan kompetensi agar mampu mengambil peran lebih besar di tengah perubahan teknologi, ekonomi, dan lingkungan.

Menurut Hastin, perempuan tidak cukup hanya menjadi pelaku ekonomi maupun penyampai informasi, tetapi harus terus belajar dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. "Bukan hanya UMKM yang harus naik kelas, tetapi perempuan sebagai sumber daya manusia juga harus naik kelas," ujarnya.

Dalam konteks jurnalistik, kemampuan menulis saja dinilai tidak cukup. Jurnalis dituntut memahami teknologi digital, media sosial, dan kecerdasan buatan (AI), tanpa kehilangan etika, integritas, serta keberpihakan pada kebenaran. Ia juga menyoroti pentingnya memahami karakteristik Kalimantan Selatan dalam menyajikan pemberitaan yang kontekstual dan dekat dengan masyarakat.

Follow halobanjarmasin.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kalimantanpost.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks