KALIMANTAN SELATAN — Sumur SLW-F002 dibor secara directional J-type menggunakan Rig PDSI #11.2/N80B-M. Pengeboran menembus kedalaman akhir 2.093 meter measured depth (mMD) atau 2.083,83 meter true vertical depth (mTVD). Seluruh rangkaian, mulai dari tajak sumur hingga uji produksi, rampung dalam waktu 54 hari.
Lokasi sumur ini berada di Kampung Manfanim, Distrik Salawati Tengah, Kabupaten Sorong. Awalnya, sumur ini direncanakan sebagai titik pengeboran SLW-F2X, namun kemudian dikembangkan menjadi SLW-F002.
Untuk memaksimalkan aliran minyak dari perut bumi, Pertamina menggunakan metode artificial lift Electric Submersible Pump (ESP). Hasil sementara uji produksi menunjukkan 623 barel per hari—angka yang tergolong menjanjikan untuk sumur pengembangan di wilayah tersebut.
Apresiasi SKK Migas: Efektif dan Nol Kecelakaan
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto memberikan apresiasi atas pencapaian ini. Menurutnya, keberhasilan sumur SLW-F002 menunjukkan komitmen industri hulu migas dalam menjaga keberlanjutan produksi nasional.
“Capaian produksi awal sebesar 623 BOPD dari lapisan Kais menjadi kontribusi positif bagi upaya peningkatan produksi migas nasional,” ujar Djoko dalam keterangan resmi, Jumat (12/6).
Yang tak kalah penting, seluruh proses pengeboran hingga uji produksi berjalan tanpa kecelakaan kerja alias zero accident. “Hal ini menunjukkan implementasi aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) berjalan dengan baik dan menjadi bagian dari budaya operational excellence,” tambah Djoko.
Efisiensi Operasi Jadi Indikator Kunci
Djoko menekankan bahwa kecepatan penyelesaian sumur dalam 54 hari menjadi indikator efektivitas program pengeboran yang dijalankan operator. Dalam industri hulu migas, semakin cepat sebuah sumur berproduksi, semakin cepat pula pengembalian investasi dan semakin kecil biaya operasional yang membebani keekonomian proyek.
Sumur SLW-F002 menjadi salah satu bukti bahwa Pertamina EP Cepu mampu mengeksekusi pengeboran di wilayah timur Indonesia dengan standar keselamatan tinggi dan hasil produksi yang solid. Keberhasilan ini diharapkan bisa direplikasi di sumur-sumur pengembangan lainnya di Papua Barat Daya.
Dengan tambahan pasokan 623 barel per hari, industri hulu migas nasional mendapat sedikit tambahan napas di tengah tekanan penurunan produksi alamiah dari sumur-sumur tua. Bagi masyarakat sekitar, aktivitas pengeboran ini juga membawa efek berganda, mulai dari lapangan kerja hingga aktivitas ekonomi lokal yang menggeliat.