KALIMANTAN SELATAN — Pertandingan sengit tiga gim ini menyajikan drama hingga poin-poin kritis di gim penentu. Joaquin mengaku aksi joget yang dilakukannya saat kedudukan 7-5 di gim ketiga adalah luapan energi yang tak tertahan, bukan aksi yang direncanakan sebelumnya.
Refleks Tubuh yang Berujung Psywar ke Lawan
"Tadi kalau yang sempat kayak nendang atau apa itu benar-benar refleks dari badan saya. Ya saya pengen ngelakuin apa aja, ya sudah saya lakuin saja daripada tersimpan kan di badan saya," ujar Joaquin usai pertandingan.
Pebulutangkis berusia 21 tahun itu menegaskan bahwa gerakan spontannya juga mengandung unsur tekanan psikologis. "Jadi itu bukan... ya mungkin sekalian psywar kali ya, tapi emang tujuan saya ya saya kayak gitu supaya keluar, supaya lebih excited lagi, lebih enjoy lagi permainannya supaya bisa lebih baik lagi," tambahnya.
Kebangkitan di Momen Kritis Gim Kedua
Pasangan Indonesia nyaris kalah straight game setelah kehilangan gim pertama 16-21. Namun, perlawanan sengit tersaji di gim kedua. Raymond/Joaquin sempat tertinggal 19-20 sebelum akhirnya memenangkan duel ketat 24-22 setelah melalui enam kali posisi deuce (20-20, 21-21, 22-22).
Kemenangan di gim kedua ini memaksa pertandingan berlanjut ke rubber game. Di gim penentu, pasangan Jepang sempat unggul 4-1 dan 16-12, sebelum Raymond/Joaquin bangkit dan menutup laga dengan skor 21-18.
Fokus Pemulihan Sebelum Semifinal
Setelah memastikan tempat di semifinal, Joaquin memilih untuk tidak memikirkan lawan selanjutnya. Prioritasnya saat ini adalah pemulihan fisik dan mental. "Sama mempersiapkan lawan besok, yang pasti pengennya makan enak dulu ya kan, tidur enak, besok baru besok. Jadi hari ini kita recovery dulu," pungkas Joaquin.
Kemenangan ini menjadi modal berharga bagi Raymond Indra/Nikolaus Joaquin yang tampil percaya diri di hadapan publik sendiri. Aksi joget Joaquin yang sempat menuai sorotan justru menjadi bukti bahwa tekanan justru memicu performa terbaik di momen krusial.