Kalimantan Selatan tidak cuma punya sungai dan pasar terapung. Di balik hiruk-pikuk Banjarmasin, ada kampung-kampung yang menjaga tradisi turun-temurun. Beberapa sudah dikenal luas, sebagian lagi masih sepi pengunjung. Yang pasti, setiap desa ini menawarkan pengalaman yang tidak bisa kamu dapatkan di hotel atau mal.
Berikut enam desa wisata dengan tradisi unik yang bisa kamu kunjungi. Catat: akses dan jam operasional bisa berubah, jadi pastikan cek langsung ke pengelola sebelum berangkat.
1. Kampung Sasirangan – Tradisi Batik Khas Banjar
Kampung ini berada di Banjarmasin, tepatnya di kawasan Kelurahan Antasan Besar. Di sini kamu bisa melihat langsung proses pembuatan kain sasirangan, batik khas Kalimantan Selatan yang menggunakan teknik ikat celup. Pewarna alami dari kulit kayu dan daun masih sering dipakai oleh perajin lokal.
Pengunjung bisa ikut mencoba membatik dari awal, mulai dari menggambar pola hingga mewarnai. Waktu terbaik datang pagi hari saat perajin mulai bekerja. Jangan lupa mampir ke galeri kecil di sepanjang gang untuk melihat variasi motif khas Banjar.
2. Desa Loksado – Ritual Aruh Gawai Dayak Meratus
Loksado terletak di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, sekitar 4 jam perjalanan dari Banjarmasin. Desa ini adalah pintu masuk ke kawasan adat Dayak Meratus. Tradisi paling kuat adalah Aruh Gawai, upacara syukur panen yang diadakan setahun sekali. Ritualnya melibatkan tarian, musik tradisional, dan sesaji khas.
Selain ritual, kamu bisa trekking menyusuri hutan pinus dan menyeberangi sungai dengan rakit bambu. Rumah-rumah warga masih berbentuk panggung dengan arsitektur khas Dayak. Untuk mengikuti Aruh Gawai, sebaiknya koordinasi dengan pengelola homestay setempat karena waktunya tidak tetap.
3. Tradisi Batola di Desa Wisata Pinggir Sungai
Batola adalah perahu kecil bercadik yang dulu menjadi alat transportasi utama masyarakat Banjar. Beberapa desa di sepanjang Sungai Martapura dan Sungai Barito masih mempertahankan tradisi membuat dan menggunakan batola. Desa-desa seperti di Kecamatan Alalak atau Gambut sering mengadakan lomba dayung batola saat festival sungai.
Kamu bisa naik batola sambil menyusuri sungai, melihat kehidupan warga di tepian, dan mencicipi jajanan tradisional yang dijual dari perahu. Tidak ada tarif resmi, biasanya cukup memberi sumbangan sukarela ke pemilik batola.
4. Tradisi Madihin – Seni Pantun Berirama
Madihin adalah seni tutur khas Banjar yang memadukan pantun, lawakan, dan kritik sosial. Pertunjukan biasanya digelar di balai desa atau di tengah pasar malam. Beberapa desa di Kabupaten Banjar dan Tapin masih rutin mengadakan madihin pada hari-hari besar atau acara pernikahan. Penampilnya disebut pama’iin, dan mereka bisa membawakan cerita selama berjam-jam tanpa teks.
Bagi pendatang, madihin mungkin terdengar seperti rap tradisional. Coba cari jadwal pertunjukan di desa-desa seperti di Kecamatan Martapura Kota atau Astambul. Pastikan datang lebih awal untuk dapat tempat duduk di barisan depan.
5. Tradisi Mamanda – Teater Rakyat Banjar
Mamanda adalah pertunjukan teater tradisional yang menggabungkan drama, lawak, dan musik. Ceritanya biasanya diambil dari legenda lokal atau kritik sosial. Grup mamanda masih aktif di desa-desa Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Banjar. Pertunjukan bisa berlangsung 2-3 jam, dengan dialog spontan yang membuat penonton tertawa.
Jika kamu beruntung, desa wisata sering mengadakan mamanda saat acara adat atau hari libur nasional. Tanyakan ke perangkat desa setempat—mereka biasanya senang jika wisatawan ikut menonton.
6. Tradisi Kerajinan Purun – Anyaman dari Rawa
Purun adalah rumput rawa yang dianyam menjadi tikar, tas, dan topi. Desa-desa di Kabupaten Barito Kuala dan Tanah Laut masih melestarikan kerajinan ini. Prosesnya dimulai dari memanen purun di rawa, kemudian menjemur, mewarnai, dan menganyam. Kamu bisa belajar langsung dari perajin yang umumnya ibu-ibu rumah tangga.
Produk anyaman purun kini mulai diekspor, tapi di desa asalnya harga lebih murah dan kamu bisa custom motif. Cari desa-desa seperti di Kecamatan Kuripan atau Anjir Muara. Waktu terbaik berkunjung musim kemarau ketika rawa surut dan purun siap dipanen.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah semua desa wisata ini gratis dikunjungi?
Tidak semua. Beberapa desa seperti Kampung Sasirangan dan Loksado tidak memungut tiket masuk, tapi ada biaya untuk aktivitas seperti membatik atau homestay. Sebaiknya tanyakan biaya langsung ke pengelola.
Kapan waktu terbaik ke desa wisata di Kalimantan Selatan?
Musim kemarau (Mei–September) lebih nyaman untuk akses jalan dan aktivitas luar ruangan. Hindari Januari–Februari karena curah hujan tinggi.
Apakah ada penginapan di sekitar desa wisata?
Kampung Sasirangan dekat dengan hotel di Banjarmasin. Loksado punya homestay sederhana. Desa lain mungkin belum memiliki fasilitas hotel, jadi rencanakan perjalanan pulang-pergi atau bawa perlengkapan camping.
Bagaimana cara menuju desa-desa ini tanpa kendaraan pribadi?
Dari Banjarmasin, naik angkutan umum ke arah Martapura, kemudian lanjut dengan ojek atau travel. Untuk Loksado, ada travel dari terminal Kandangan. Pastikan komunikasi dengan sopir sebelum berangkat.
Apakah anak-anak dan lansia bisa mengikuti tradisi di desa-desa ini?
Sebagian besar aktivitas ramah keluarga. Khusus trekking di Loksado perlu kondisi fisik prima. Untuk kerajinan purun dan batik, semua usia bisa ikut.
Wisata desa di Kalimantan Selatan bukan sekadar pemandangan. Ini kesempatan menyentuh langsung cara hidup, seni, dan kearifan lokal yang jarang ditemukan di kota. Pastikan kamu menghormati adat setempat dan tidak memaksakan diri untuk masuk ke area terlarang tanpa izin.