BANJARBARU — Muhammad Thoha, peserta dari kafilah Banjarbaru, mengaku persiapannya untuk cabang kaligrafi digital di MTQN ke-37 Kalsel tidak hanya soal goresan tangan. Ia harus menguasai aplikasi di perangkat pintar setelah konsep tulisan selesai dirancang di kertas.
“Untuk persiapan lebih ke penulisannya dulu, setelah itu konsep untuk digitalisasinya,” katanya usai penutupan training center (TC) MTQN ke-37 di salah satu hotel di Banjarbaru, Senin (11/5/2026).
Bedanya dengan Kaligrafi Biasa
Menurut Thoha, perbedaan paling mendasar terletak pada media. Kaligrafi biasa menggunakan karton, kanvas, atau triplek. Sementara kaligrafi digital sepenuhnya dikerjakan di aplikasi.
“Kalau (kaligrafi) biasa itu mereka lebih ke penulisannya di karton, ada yang di kanvas, ada yang di triplek. Kalau ini kami di aplikasi,” bebernya.
Tantangan: Menyesuaikan Tema Ayat
Walau menggunakan teknologi, Thoha mengakui ada kesulitan tersendiri. Ia harus menyesuaikan desain digital dengan tema ayat yang ditentukan panitia secara mendadak.
“Misalkan ayatnya tentang neraka kan otomatis kita membikin tentang neraka gitu, kalau ayatnya tentang haji otomatis ada Kakbah. Kalau ayatnya tergantung dari panitia,” jelasnya.
Trik Khusus: Dari Kertas ke Layar
Thoha membagikan trik yang ia gunakan. Pertama, ia membuat gambar kaligrafi di kertas terlebih dahulu. Setelah itu, hasilnya difoto dan dimasukkan ke dalam aplikasi.
“Hapus background kertasnya itu, baru kita aplikasikan di aplikasi,” tuntasnya.
Cabang kaligrafi digital ini menjadi salah satu yang dilombakan dalam gelaran MTQN ke-37 Kalsel di Barito Kuala. Kehadirannya kembali setelah sempat vakum di tahun-tahun sebelumnya diharapkan bisa menjaring generasi muda yang melek teknologi tanpa meninggalkan seni menulis ayat suci.