BANJARMASIN — Kedatangan rombongan disambut anggota BPK Palm 21 yang diketuai M Ihsan Azhari. Diskusi berlangsung akrab, membahas teknik pemadaman kebakaran hutan maupun di kawasan permukiman.
Didik Parianto menilai pertemuan itu mempertemukan pengalaman tim Brasil dengan relawan pemadam kebakaran daerah. Menurutnya, penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau perusahaan.
“Harus ada tiga elemen yang berjalan bersama, yakni pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Kalau semuanya berkolaborasi, hasilnya tentu akan lebih baik daripada bergerak sendiri-sendiri,” ujarnya.
Didik menyebut relawan lokal menyimpan pengalaman lapangan yang berharga untuk mendukung pengendalian kebakaran. Kolaborasi antara pemerintah, tim penyelamat, dan BPK perlu diperkuat agar upaya pencegahan maupun pemadaman lebih efektif.
Ia berharap pertukaran pengetahuan itu menjadi bekal menghadapi musim kemarau berikutnya. Mitigasi dan pencegahan perlu dilakukan lebih awal agar kebakaran tidak meluas hingga memicu kondisi darurat.
Karakteristik lahan gambut di Kalimantan memiliki tantangan tersendiri dan berbeda dengan kawasan hutan di Brasil, termasuk Amazon. Karena itu, pengalaman dari kedua wilayah perlu dipelajari dan disesuaikan dengan kondisi lapangan.
“Pengalaman mereka perlu kita pelajari, begitu juga kondisi di sini. Harapannya, tahun depan mitigasi bisa dilakukan lebih awal, sehingga tidak selalu menunggu kejadian besar atau tanggap darurat baru bergerak,” jelas Didik.
M Ihsan Azhari mengaku bersyukur organisasinya mendapat kesempatan bertemu langsung dengan tim dari Brasil dan Indonesia. Kunjungan tersebut memberikan tambahan wawasan sekaligus membangkitkan semangat para relawan.
Selain berdiskusi soal penanganan kebakaran, anggota BPK Palm 21 mendapat penjelasan mengenai pendekatan pemadaman yang dibawa tim tersebut, termasuk produk yang diperkenalkan dalam pertemuan itu.