Dukung Pembatasan Ponsel Siswa SD-SMA di Banjarbaru, Orang Tua Ungkap Alasan di Baliknya

Penulis: Vicky Prasetya  •  Minggu, 17 Mei 2026 | 12:21:01 WIB
Orang tua di Banjarbaru mendukung pembatasan ponsel siswa SD-SMA untuk meningkatkan konsentrasi belajar.

BANJARBARU — Dukungan terhadap wacana pembatasan ponsel di sekolah mengalir deras dari kalangan orang tua siswa di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kebijakan yang menyasar jenjang SD hingga SMA/SMK itu dinilai sebagai langkah strategis di tengah kekhawatiran meluasnya dampak negatif gawai terhadap proses belajar anak.

Konsentrasi Belajar Tergerus Medsos dan Game

Yunus Ariyandie, ayah dengan anak di bangku SMK dan SD, mengaku setuju dengan rencana tersebut. Menurutnya, ponsel kerap mengalihkan perhatian siswa saat pelajaran berlangsung.

“Pembatasan membantu anak lebih bijak menggunakan teknologi dan tidak terus menerus menatap layar. Anak juga lebih banyak berbicara langsung dengan teman dan guru dibanding sibuk dengan ponsel,” ujar pria yang menjabat Kepala Seksi Pemerintahan di Kelurahan Bangkal itu saat diwawancarai, baru-baru ini.

Ia menambahkan, media sosial, game, dan aplikasi chatting menjadi gangguan utama yang membuat siswa sulit fokus menerima materi dari guru.

Cegah Kecurangan dan Lindungi Kesehatan Mata

Selain soal konsentrasi, Yunus menyoroti aspek kejujuran akademik. Ia menilai pembatasan akses ponsel bisa menekan potensi kecurangan saat ujian atau tugas sekolah.

“Tentunya juga berdampak pada kesehatan, karena mengurangi penggunaan layar berlebihan dapat membantu kesehatan mata dan kualitas tidur siswa,” beber warga Kelurahan Loktabat Utara itu.

Meski demikian, ia mengingatkan ada sisi lain yang perlu diperhatikan. Pembatasan ponsel bisa membatasi akses siswa terhadap informasi digital dan menyulitkan komunikasi dengan orang tua, terutama dalam kondisi darurat.

“Pembatasan ponsel ini kurang efektif di era digital. Banyak orang menilai sekolah seharusnya mengajarkan penggunaan teknologi secara bijak, bukan hanya melarangnya,” tuturnya.

Orang Tua Akui Dampak Negatif Ponsel pada Anak SD

Senada dengan Yunus, Risda, orang tua siswa lainnya, mengaku mendukung penuh kebijakan ini. Ia memiliki pengalaman pahit setelah memberikan ponsel kepada anaknya yang masih duduk di bangku SD.

“Saya menyesal memberikan ponsel ke anak yang masih SD. Anak saya pernah dalam sehari hanya memegang ponsel, dan mau berhenti menggunakannya ketika dimarahi,” ungkap warga Kelurahan Guntung Payung itu.

Sementara anaknya yang di SMK—jurusan Desain—tidak diperbolehkan memegang ponsel saat jam belajar karena fokus pada laptop. Namun, di luar jam sekolah, Risda mengaku anak-anaknya kesulitan mengontrol diri.

“Di sekolah SMK itu waktu belajar tidak pegang ponsel, fokus laptop saja. Cuma di luar itu, jam istirahat sekolah atau di rumah bebas betul anak-anak pakai ponsel, membuatnya tidak fokus lagi,” katanya.

Risda menegaskan, belajar tanpa ponsel justru lebih efektif. “Masih banyak cara belajar tanpa ponsel, karena anak-anak bisa lebih fokus,” tuntasnya.

Reporter: Vicky Prasetya
Sumber: pojokbanua.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top