KALIMANTAN SELATAN — Partai Amanat Nasional berduka. Salah satu pendirinya, Abdillah Toha, mengembuskan napas terakhir pada usia 84 tahun. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh petinggi partai, Senin (15/4) kemarin.
Abdillah Toha bukan sekadar nama di deretan pendiri PAN. Ia adalah representasi dari politik gagasan: seorang intelektual yang lebih sering menuangkan pemikiran lewat kolom-kolom tajam di media nasional ketimbang gemar tampil di panggung seremonial.
Jejak Intelektual di Tengah Politik Praktis
Lahir di Sumatera Barat, Abdillah memulai karier sebagai akademisi dan jurnalis. Ia kemudian masuk ke dunia politik praktis saat mendirikan PAN bersama Amien Rais dan tokoh reformis lainnya pada 1998. Namun, berbeda dari politikus pada umumnya, ia tak pernah meninggalkan dunia tulis-menulis.
Kolom-kolomnya kerap membedah isu kebangsaan dari kacamata Islam modernis. Ia menolak politik identitas sempit dan mendorong Islam sebagai etika sosial, bukan sekadar alat mobilisasi massa.
Pemikir Islam Modernis yang Konsisten
Dalam perjalanan politik Indonesia pasca-Reformasi, Abdillah dikenal vokal mengkritik praktik korupsi dan penyimpangan kekuasaan. Ia juga aktif dalam forum-forum dialog antaragama. Pandangannya tentang Islam yang inklusif kerap menjadi rujukan bagi generasi muda politikus PAN.
"Beliau adalah guru bagi kami. Cara berpikirnya jernih, tidak pernah emosional, dan selalu mendahulukan argumentasi," ujar Sekretaris Jenderal PAN, Eddy Soeparno, dalam pernyataan resmi.
Warisan Kolom yang Abadi
Bagi kalangan jurnalis dan akademisi, nama Abdillah Toha identik dengan kolom opini yang berbobot. Ia mampu menyederhanakan persoalan rumit tanpa kehilangan kedalaman. Gaya bahasanya lugas, kritis, namun tetap santun.
Karya-karya tulisnya tersebar di berbagai media cetak nasional sejak era 1980-an. Beberapa di antaranya dihimpun dalam buku yang masih dibaca mahasiswa ilmu politik hingga kini.
PAN Kehilangan Sosok Penyeimbang
Kepergian Abdillah Toha menjadi kehilangan besar bagi PAN, terutama di tengah dinamika politik yang kian pragmatis. Ia adalah salah satu dari sedikit pendiri partai yang tetap memegang teguh idealisme awal: politik sebagai alat perubahan, bukan sekadar rebutan kekuasaan.
Sampai berita ini diturunkan, rencana pemakaman masih dalam koordinasi keluarga besar. PAN berencana memberi penghormatan terakhir di kantor DPP, sebelum prosesi pemakaman secara Islam.