KALIMANTAN SELATAN — Setelah hampir dua tahun menahan diri, industri minyak dan gas Amerika Serikat kembali menginjak pedal gas. Data terbaru Baker Hughes menunjukkan jumlah rig aktif naik dalam empat pekan beruntun hingga 15 Mei 2026, menjadi 551 unit. Rinciannya, rig minyak bertambah lima menjadi 415 unit—level tertinggi sejak November 2025—sementara rig gas justru turun tipis ke 128 unit.
Perubahan arah ini tidak terjadi begitu saja. Sejak 2023 hingga 2025, perusahaan migas AS cenderung menahan ekspansi. Harga minyak yang melemah membuat mereka lebih fokus menjaga arus kas, membayar utang, dan membagikan dividen ke pemegang saham.
Namun perang Iran mengubah peta jalan itu. Harga minyak mentah acuan West Texas Intermediate (WTI) kini bergerak di atas USD 100 per barel. Konflik di Timur Tengah yang tak kunjung reda membuat pasar percaya fase energi murah mungkin mulai berakhir.
“Ketidakpastian di Selat Hormuz membuat risiko gangguan pasokan global tetap tinggi,” demikian analisis yang beredar di pasar. Sementara konsumsi energi dunia masih terus berjalan, Amerika Serikat kembali berada di posisi strategis sebagai penyeimbang.
Lembaga Informasi Energi AS (EIA) memproyeksikan produksi minyak mentah Amerika naik dari rekor 13,6 juta barel per hari pada 2025 menjadi sekitar 13,7 juta barel per hari pada 2026. Kenaikannya tipis, tetapi cukup memberi sinyal bahwa industri mulai keluar dari mode defensif.
Di sektor gas alam, produksi diprediksi naik lebih jelas: dari 107,7 miliar kaki kubik per hari menjadi 110,6 miliar kaki kubik per hari tahun depan. Menariknya, ekspansi ini terjadi justru ketika harga gas diperkirakan sedikit melemah pada 2026. Ini menandakan perusahaan energi mulai menyiapkan strategi jangka panjang, terutama untuk memenuhi permintaan ekspor LNG dan kebutuhan energi industri global.
Meski jumlah rig mulai bertambah, total rig aktif AS saat ini masih lebih rendah sekitar 4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Artinya, industri migas AS belum sepenuhnya kembali ke era shale boom. Perusahaan energi masih dibayangi tekanan biaya produksi, ketidakpastian geopolitik, dan suku bunga tinggi yang membuat pembiayaan proyek lebih mahal.
Pasar energi global saat ini bergerak sangat sensitif terhadap perkembangan perang Iran. Sedikit gangguan pasokan saja bisa langsung mendorong harga minyak melonjak tajam. Karena itu, tambahan rig dari AS lebih banyak dibaca sebagai upaya menjaga keseimbangan, bukan membanjiri dunia dengan pasokan baru.
Satu hal mulai terlihat jelas: ketika Timur Tengah memanas dan harga minyak kembali tinggi, industri energi Amerika perlahan bangun lagi. Jika tren ini berlanjut, persaingan pasokan global bisa semakin agresif pada 2026.