AMUNTAI — Ribuan masyarakat memadati sepanjang jalan Basuki Rahmat di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) untuk berburu kuliner gratis, Sabtu (2/5/2026). Momentum peringatan Hari Jadi ke-74 Kabupaten HSU ini dimanfaatkan pemerintah daerah untuk memperkenalkan kembali kekayaan pangan lokal kepada generasi muda. Sebanyak 41 jenis wadai (kue) tradisional khas Banjar disajikan secara cuma-cuma oleh berbagai instansi pemerintah kabupaten.
Antrean panjang mulai terlihat sejak pagi hari di depan puluhan tenda yang berjejer rapi. Tidak hanya warga lokal dari Bumi Khuripan, sejumlah pengunjung dari luar daerah turut hadir mencicipi masakan otentik tersebut. Salah satu titik paling ramai adalah stand milik Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (DisperkimLH) Kabupaten HSU.
Stand DisperkimLH HSU menjadi daya tarik utama berkat sajian wadai lempeng yang dimasak langsung di lokasi. Aroma harum dari proses pembakaran menggunakan alas daun pisang memicu minat pengunjung untuk mengantre. Selain varian pisang yang umum ditemui, petugas juga menyajikan inovasi rasa nangka dan waluh atau labu kuning.
Petugas stand DisperkimLH HSU, Yumsiah, mengakui tingginya minat masyarakat terhadap kudapan tradisional tersebut. Stok yang disediakan habis dalam waktu singkat sehingga petugas harus terus memproduksi ulang di tempat demi melayani warga.
“Kami harus terus memproduksi ulang wadai lempeng di lokasi acara karena permintaan masyarakat sangat tinggi, bahkan melebihi ekspektasi kami,” ujar Yumsiah saat ditemui di lokasi, Sabtu (2/5/2026).
Penyajian kuliner tradisional ini merupakan langkah konkret pemerintah daerah dalam menjaga eksistensi warisan leluhur. Penggunaan cara memasak konvensional memberikan nilai tambah pada cita rasa. Hal ini diapresiasi oleh pengunjung yang merindukan suasana kuliner tempo dulu di tengah gempuran makanan modern.
Yuli, salah satu warga yang hadir, mengaku sengaja datang lebih awal agar tidak kehabisan menu favoritnya. Baginya, momen hari jadi daerah adalah waktu yang tepat untuk menikmati aneka wadai Banjar yang kini mulai jarang ditemui di pasar harian.
“Baunya harum, apalagi wadai lempengnya dimasak menggunakan daun pisang. Sajian kuliner gratis ini selalu saya nantikan di setiap perayaan hari jadi daerah,” kata Yuli.
Festival kuliner ini tidak hanya menjadi ajang makan gratis, tetapi juga sarana promosi pariwisata daerah. Kehadiran tamu dari luar Kabupaten HSU menunjukkan potensi daya tarik wisata berbasis budaya di Kalimantan Selatan. Identitas lokal semakin kuat melalui pengenalan 41 jenis wadai tradisional yang menjadi simbol kemeriahan usia ke-74 kabupaten ini.
Hingga siang hari, kawasan Basuki Rahmat tetap dipadati warga yang bergantian mencicipi hidangan yang tersedia. Acara tahunan ini diproyeksikan tetap menjadi agenda rutin untuk mempererat silaturahmi sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif masyarakat di Kabupaten Hulu Sungai Utara.