Pencarian

ICIMOD Lacak Gletser Nepal Usai Banjir Bandang Tewaskan 300 Orang, Teknologi Satelit Jadi Garda Terdepan Deteksi Dini

Selasa, 01 September 2026 • 16:58:01 WIB
ICIMOD Lacak Gletser Nepal Usai Banjir Bandang Tewaskan 300 Orang, Teknologi Satelit Jadi Garda Terdepan Deteksi Dini
Ratusan warga kehilangan tempat tinggal setelah banjir bandang menerjang permukiman di Nepal pekan ini.

KALIMANTAN SELATAN — Bencana di Nepal pekan ini memberikan gambaran paling gamblang tentang bagaimana krisis iklim mentransformasi Himalaya menjadi zona mematikan. Campuran es, air, bebatuan, dan sedimen sebesar mobil menghantam permukiman di hilir. Rumah, pembangkit listrik, jembatan, hingga jalan penghubung luluh lantak.

Dampak Bencana dalam Angka

Analisis satelit ICIMOD mengungkapkan gletser raksasa selebar sekitar 600 meter patah dari Gunung Langtang Lirung sebelum memicu longsor besar. Material tersebut meluncur sekitar 2.100 meter ke bawah menerjang ngarai sempit dengan kecepatan tinggi.

"Yang terjadi Rabu lalu skalanya jauh lebih besar," ujar Prashant Baral, analis ICIMOD. Organisasi iklim yang bermarkas di Nepal ini mencatat ratusan orang tewas dan ratusan lainnya masih dinyatakan hilang hingga berita ini diturunkan.

Mengapa Gletser Kini Lebih Rapuh?

Gletser di kawasan Hindu Kush Himalaya mencair dua kali lebih cepat sejak tahun 2000 dibanding periode sebelumnya. Dari total 200.000 gletser pegunungan di dunia, separuhnya diperkirakan lenyap sebelum akhir abad ini—bahkan jika target iklim paling ambisius tercapai.

Es berperan sebagai perekat alami yang menyatukan struktur batuan pegunungan. Richard Waller, ahli geografi fisik di Keele University, Inggris, menjelaskan gunung-gunung tinggi adalah batuan dasar retak yang direkatkan es di celah-celahnya.

Saat suhu meningkat, permafrost melunak, celah-celah es mencair, dan lereng kehilangan daya rekat. Bongkahan besar di lereng gunung pun mudah goyah dan runtuh secara tiba-tiba.

Pemicu Alami hingga Campur Tangan Manusia

Selain runtuhnya gletser, danau glasial menjadi ancaman berikutnya. Danau yang terbentuk dari akumulasi air lelehan ini bisa meluap dan menjebol tepiannya, mengirim tumpahan air deras ke lereng curam. Insiden serupa terjadi di Nepal pada Juli tahun lalu, menewaskan sedikitnya 11 orang.

Polusi bahan bakar fosil yang memanaskan Bumi juga mengubah karakter curah hujan di pegunungan. "Terlepas apakah peristiwa spesifik ini terkait langsung perubahan iklim atau tidak, hal seperti inilah yang sudah kami perkirakan. Ini wujud nyata perubahan iklim," tegas Dan Shugar, ahli geologi di University of Calgary, Kanada.

Ancaman di Pegunungan Lain: Dari Alpen hingga Alaska

Nepal memiliki risiko tertinggi, tetapi ancaman ini bersifat global. Pegunungan Alpen di Eropa dan Andes di Amerika Selatan menghadapi kerentanan serupa karena memiliki karakteristik gletser dan permafrost yang identik.

Di Amerika Serikat, Gletser Mendenhall di atas ibu kota Alaska, Juneau, kerap memicu banjir bandang saat Danau Suicide Basin jebol. Sementara di Swiss, desa Blatten tertimbun material setelah gletser runtuh pada tahun lalu, yang diduga dipicu mencairnya permafrost.

Teknologi Satelit Jadi Garda Depan Deteksi Dini

Analisis citra satelit kini menjadi metode utama untuk mendeteksi pergerakan gletser dan perubahan struktur lereng yang sulit dijangkau secara langsung. Data ini membantu peneliti memetakan zona bahaya dan memberikan peringatan lebih awal kepada penduduk di lembah-lembah hilir.

Keterbatasan infrastruktur pemantauan di negara berkembang masih menjadi tantangan. "Ada banyak gletser menggantung di atas kepala kita dan bisa pecah kapan saja. Jika terjadi, rasanya seperti ada tsunami dari langit," ujar Bishal Upreti, ahli geologi dari Nepal Centre for Disaster Management.

Peristiwa di Nepal menjadi pengingat bahwa investasi pada sistem peringatan dini dan pemetaan risiko berbasis satelit bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi negara-negara dengan kawasan pegunungan tinggi.

Follow halobanjarmasin.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks