KALIMANTAN SELATAN — Desa Kemuning selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi anggrek dan kopi di lereng Lawu. Namun, nilai ekonominya belum optimal karena sebagian besar hasil panen masih dijual dalam bentuk mentah. Lewat program kolaborasi yang digagas UNS bersama UBY, dua kelompok mitra di desa itu kini didorong untuk mengolah hasil produksinya menjadi produk bernilai tambah, termasuk kombinasi susu dan kopi seduh dengan cita rasa original.
Fokus Pendampingan: dari Sarana Produksi hingga Pembukuan Digital
Ketua Pelaksana Program, Ari Prasetyo, S.T., M.T., menjelaskan pendampingan dirancang berdasarkan kebutuhan masing-masing kelompok. Kemuning Orchid diarahkan untuk memperkuat budidaya anggrek melalui pengembangan sarana produksi, pembangunan greenhouse, hingga pengenalan teknologi kultur jaringan.
Sementara itu, Kelompok Tani Ternak Madu Sari 03 fokus pada pengembangan sapi dan kambing perah, sekaligus mengolah komoditas kopi dan nilam menjadi produk turunan. Ari menegaskan program ini tidak berhenti pada pemberian bantuan alat atau pelatihan semata.
“Kami tidak ingin teknologi yang diberikan berhenti sebagai bantuan alat atau pelatihan. Tujuan utama program ini adalah membangun kapasitas mitra agar mereka mampu memanfaatkan teknologi, mengembangkan produk, melakukan pemasaran secara lebih luas, dan mengelola usaha secara mandiri,” jelasnya.
Digitalisasi Pemasaran dan Manajemen Usaha
Peningkatan produksi saja dinilai tidak cukup untuk membuat produk lokal bersaing. Karena itu, pendampingan juga menyentuh sisi pemasaran dan manajemen usaha. Mitra mendapatkan pelatihan pengembangan produk, desain kemasan, digital marketing, hingga pencatatan keuangan menggunakan telepon pintar.
“Produksi, pemasaran, dan manajemen harus berjalan bersama. Dengan pendekatan tersebut, kami berharap terjadi peningkatan nilai tambah dan keberlanjutan usaha mitra,” tambah Ari.
Perwakilan mitra, Sumadi, mengaku sebelumnya kelompoknya lebih banyak berkonsentrasi pada produksi. Aspek pengemasan dan pemasaran belum menjadi perhatian utama. “Sebelumnya kami lebih banyak berfokus pada produksi. Melalui program ini kami mendapatkan pemahaman bahwa produk yang baik juga harus didukung dengan kemasan, pemasaran, dan pengelolaan usaha yang baik,” ungkapnya.
Harapan Keberlanjutan dari Pemerintah Desa
Kepala Desa Kemuning, Harun Waskito, S.Sos., M.A.P., menyambut baik keterlibatan perguruan tinggi dalam pengembangan potensi desa. Menurutnya, pendampingan teknologi dapat membantu masyarakat mengubah komoditas lokal menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Kami sangat mengapresiasi program kolaborasi ini karena potensi yang ada di desa tidak hanya dilihat sebagai komoditas, tetapi juga dikembangkan melalui teknologi dan inovasi sehingga memiliki nilai tambah,” ujarnya.
“Kami berharap kerja sama ini dapat berkelanjutan dan semakin banyak masyarakat yang mendapatkan manfaat. Desa memiliki banyak potensi, baik pertanian, peternakan, maupun produk olahan,” tambah Harun.
Program ini diarahkan untuk mendukung target pembangunan berkelanjutan, terutama pertumbuhan ekonomi dan inovasi di tingkat desa. Dengan pendekatan yang menyentuh aspek produksi, pemasaran, dan manajemen secara bersamaan, Desa Kemuning diharapkan mampu menciptakan ekosistem usaha lokal yang mandiri dan berdaya saing.