BANJARBARU — Ketika deru mesin kota dan kepulan asap kendaraan makin riuh, sebuah gerobak sederhana di pinggir jalan justru menyimpan cerita tentang keteguhan. Di jantung Kota Banjarbaru, penjual gorengan ini memilih untuk tidak ikut-ikutan menaikkan harga di tengah tekanan ekonomi yang mencekik.
Harga Tetap Seribu Rupiah, Pembeli Tak Pernah Sepi
Di saat harga bahan baku seperti minyak goreng dan tepung terus berfluktuasi, gorengan seribu rupiah ini seolah menjadi penawar dahaga bagi masyarakat kelas bawah. “Ini bukan soal untung besar, tapi soal bagaimana kami bisa tetap berbagi,” ujar penjual yang enggan disebutkan namanya.
Pembeli datang silih berganti. Ada yang membeli tiga, lima, bahkan sepuluh biji untuk dibawa pulang. “Di tempat lain sudah naik, di sini masih sama. Rasanya juga enak, gurih,” kata seorang pembeli yang mengaku rutin mampir setiap sore.
Mengapa Penjual Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi?
Keputusan untuk tidak menaikkan harga bukan tanpa konsekuensi. Margin keuntungan yang tipis membuat penjual harus pintar-pintar mengatur stok dan mencari bahan baku dengan harga lebih murah. Namun, semangat untuk tetap melayani warga yang ekonominya terbatas menjadi prioritas utama.
“Lebih baik untung sedikit tapi banyak yang bisa beli, daripada untung besar tapi sepi pembeli,” tambahnya sambil menggoreng adonan di wajan besar.
Fenomena UMKM yang Menjadi Penyangga Ekonomi Warga
Fenomena gorengan seribu rupiah ini bukan sekadar jualan biasa. Ini adalah potret nyata bagaimana sektor UMKM di Banjarbaru menjadi bantalan sosial bagi masyarakat. Di saat inflasi mengguncang daya beli, keberadaan gerobak-gerobak kecil ini justru menjadi penyelamat.
Seperti ditulis dalam laporan Redaksi 8, riuh rendah perubahan di Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan begitu terasa. Namun, di sudut-sudut jalan, masih ada keteguhan yang tak tergerak oleh arus ekonomi.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Gerobak Gorengan Ini?
Kisah ini mengingatkan bahwa nilai sebuah usaha tidak selalu diukur dari besarnya omzet, tapi dari seberapa besar manfaatnya bagi lingkungan sekitar. Gerobak gorengan seribu rupiah di jantung Banjarbaru adalah bukti bahwa kebaikan kecil bisa menjadi berkah besar bagi banyak orang.
Bagi warga Banjarbaru dan sekitarnya, gorengan ini bukan sekadar camilan murah, melainkan simbol solidaritas di tengah kerasnya kehidupan kota.