Pencarian

Kelangkaan Solar di Banjarmasin Hantam Penggilingan Padi, Biaya Operasional Membengkak hingga 30 Persen

Sabtu, 23 Mei 2026 • 12:08:01 WIB
Kelangkaan Solar di Banjarmasin Hantam Penggilingan Padi, Biaya Operasional Membengkak hingga 30 Persen
Kelangkaan solar bersubsidi di Banjarmasin menyebabkan kenaikan biaya operasional penggilingan padi hingga 30 persen.

BANJARMASIN — Para pengusaha penggilingan padi di Banjarmasin kini menjerit. Pasokan Bio Solar bersubsidi di sejumlah SPBU sulit didapat, memaksa mereka membeli dari pengecer dengan harga jauh di atas harga resmi. Akibatnya, biaya produksi beras di tingkat penggilingan membengkak signifikan.

Berapa Harga Solar Eceran di Lapangan?

Meski pemerintah masih mematok harga Bio Solar bersubsidi di SPBU sebesar Rp6.800 per liter, kenyataan di lapangan berbeda. Di sejumlah titik di Banjarmasin, harga eceran Bio Solar tembus hingga Rp8.500 hingga Rp9.000 per liter. Selisih harga ini langsung membebani pengusaha kecil.

Dampaknya ke Biaya Produksi Penggilingan

Para pengusaha mengaku biaya operasional mesin penggiling naik drastis. Jika biasanya dalam sehari mereka menghabiskan 20 liter solar, dengan kenaikan harga eceran, pengeluaran harian bisa bertambah puluhan ribu rupiah. Dalam sebulan, akumulasi kenaikan biaya ini mencapai 25 hingga 30 persen.

“Kalau dulu modal Rp100 ribu bisa jalan sehari, sekarang harus Rp130 ribu. Ini belum termasuk biaya perawatan mesin,” ujar seorang pengusaha penggilingan di kawasan Kelayan, Banjarmasin Selatan.

Siapa Paling Terdampak?

Pengusaha penggilingan skala kecil dan menengah menjadi pihak yang paling terpukul. Mereka tidak memiliki kontrak atau jalur khusus untuk mendapatkan solar bersubsidi dari SPBU. Berbeda dengan pengusaha besar yang punya tangki penyimpanan dan akses ke agen resmi.

Akibatnya, sebagian penggilingan terpaksa mengurangi jam operasional. Ada juga yang memilih menaikkan tarif jasa giling kepada petani atau tengkulak. Jika tidak, mereka harus menanggung sendiri selisih biaya yang terus menggerus keuntungan.

Mengapa Solar Subsidi Sulit Didapat?

Kelangkaan ini bukan pertama kali terjadi di Banjarmasin. Para pengusaha menduga distribusi solar bersubsidi di tingkat SPBU kerap tidak merata. Antrean panjang di SPBU juga membuat mereka enggan membuang waktu, sehingga memilih membeli dari pengecer yang harganya sudah pasti lebih mahal.

Belum ada pernyataan resmi dari pihak Pertamina atau Pemkot Banjarmasin terkait lonjakan harga eceran ini. Namun, para pengusaha berharap ada pengawasan distribusi agar solar bersubsidi benar-benar sampai ke sektor produktif seperti pertanian dan penggilingan padi.

Apakah Harga Beras Ikut Naik?

Belum ada kepastian. Namun jika biaya produksi di penggilingan terus membengkak, bukan tidak mungkin harga beras di tingkat konsumen ikut terdampak. Para pengusaha mengaku masih berusaha menahan harga jasa giling agar petani tidak dirugikan.

Bagaimana Solusi untuk Pengusaha Penggilingan?

Para pengusaha mendesak pemerintah daerah untuk turun tangan. Mereka meminta ada jaminan pasokan solar bersubsidi khusus untuk sektor penggilingan padi. Jika tidak, kelangkaan ini bisa mengganggu rantai pasok beras di Banjarmasin dan sekitarnya.

Apa Langkah Pemkot Banjarmasin Selanjutnya?

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Banjarmasin. Para pengusaha berharap ada rapat koordinasi dengan pihak terkait untuk mencari solusi jangka pendek, seperti pembukaan SPBU khusus petani atau penggilingan.

Bagikan
Sumber: radarbanjarmasin.jawapos.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks