Eksplorasi itu menjadi bagian dari program inventarisasi keanekaragaman hayati KRB yang sudah berjalan sejak beberapa pekan lalu. Tim peneliti turun ke lapangan untuk mendokumentasikan spesies tanaman yang biasa digunakan warga sebagai obat herbal.
Mengapa Pengetahuan Tradisional Jadi Acuan Riset?
Kepala UPT Kebun Raya Banua menyebut bahwa pendekatan etnobotani menjadi kunci dalam riset ini. Masyarakat lokal di Tanah Bumbu memiliki catatan lisan tentang ramuan dan takaran yang sudah teruji secara empiris selama puluhan tahun.
"Kami tidak hanya mengoleksi tanaman, tetapi juga mencatat cara pengolahan dan dosis yang biasa digunakan. Ini data berharga yang bisa diverifikasi secara laboratorium," ujarnya dalam keterangan resmi.
Hasil Eksplorasi Akan Masuk Koleksi Bank Plasma Nutfah
Spesies yang ditemukan nantinya akan dikembangbiakkan di area konservasi KRB. Sebagian akan dijadikan koleksi hidup untuk penelitian lebih lanjut dan edukasi pengunjung.
KRB juga berencana menyusun database digital yang memuat nama lokal, nama ilmiah, serta klaim khasiat setiap tanaman. Database ini terbuka bagi akademisi dan praktisi kesehatan tradisional.
Potensi Tanaman Obat Kalsel di Pasar Herbal Nasional
Kalimantan Selatan dikenal memiliki kekayaan flora obat yang belum banyak tereksplorasi secara akademik. Tanaman seperti akar kuning, pasak bumi, dan berbagai jenis jahe-jahean lokal menjadi prioritas dalam ekspedisi ini.
Jika hasil uji laboratorium menunjukkan khasiat yang terukur, bukan tidak mungkin tanaman-tanaman ini masuk rantai pasok industri jamu dan suplemen herbal nasional.
Apa Target Riset Selanjutnya?
Tim peneliti menargetkan pendataan 50 spesies tanaman obat baru dari kawasan Tanah Bumbu dalam tiga bulan ke depan. Setelah itu, sampel akan diuji fitokimia di laboratorium Universitas Lambung Mangkurat.
KRB juga menggandeng Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Banjarmasin untuk memastikan standar keamanan konsumsi jika tanaman tersebut akan direkomendasikan sebagai bahan baku obat tradisional.