KOTABARU — Musim kemarau ekstrem akibat fenomena El Nino diprediksi membayangi Kabupaten Kotabaru pada tahun 2026. Pemerintah daerah setempat mulai memperketat pengawasan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan yang mengancam wilayah daratan maupun kepulauan.
Wakil Bupati Kotabaru, Syairi Mukhlis, menyebutkan bahwa peringatan dini ini menjadi dasar bagi seluruh instansi dan warga untuk meningkatkan kewaspadaan. Menurutnya, kondisi geografis Kotabaru yang unik menuntut penanganan bencana yang lebih spesifik dan terintegrasi.
Si Harapan Ceria: Digitalisasi Pendataan Pascabencana
Salah satu terobosan yang diperkenalkan dalam Apel Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026 adalah aplikasi Si Harapan Ceria. Platform ini merupakan akronim dari Sistem Informasi Hitung Cepat Kerusakan dan Kerugian Pascabencana.
Inovasi tersebut dirancang untuk memangkas birokrasi dalam proses identifikasi kerusakan setelah terjadi bencana. Data yang dihimpun secara digital akan langsung menjadi basis kebijakan bagi pemerintah dalam menentukan langkah rehabilitasi dan rekonstruksi di berbagai sektor.
BPBD Kabupaten Kotabaru diharapkan mampu memanfaatkan teknologi ini untuk meningkatkan efektivitas penanganan lapangan. Dengan data yang lebih akurat, proses pemulihan infrastruktur maupun bantuan sosial bagi warga terdampak bisa disalurkan lebih cepat dari sebelumnya.
Bagaimana Strategi Kotabaru Menghadapi Kemarau Panjang?
Syairi Mukhlis, yang hadir mewakili Bupati H. Muhammad Rusli, menekankan bahwa mitigasi bencana tidak bisa bertumpu sepenuhnya pada kekuatan personel pemerintah. Ia menyoroti pentingnya peran aktif relawan dan masyarakat dalam menjaga lingkungan masing-masing.
"Kesadaran dan kesiapan masyarakat menjadi kunci dalam meminimalkan dampak bencana," tegas Syairi saat memimpin apel di kawasan Siring Laut.
Pemerintah daerah memberikan instruksi tegas kepada warga untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan selama musim kemarau. Selain itu, masyarakat diimbau mulai menyiapkan langkah darurat mandiri, seperti pemetaan jalur evakuasi dan penyiapan perlengkapan tanggap bencana di tingkat keluarga.
Sinergi Petugas Pemadam dan Relawan di Wilayah Kepulauan
Selain fokus pada teknologi, penguatan personel di lapangan tetap menjadi prioritas. Petugas pemadam kebakaran dan relawan kini tidak hanya dilatih untuk menangani kebakaran permukiman, tetapi juga dibekali kemampuan penanggulangan karhutla di medan sulit.
Sinergi antara pemerintah, relawan, dan sektor swasta diharapkan mampu membangun budaya sadar bencana yang lebih kuat. Hal ini krusial mengingat wilayah Kotabaru memiliki banyak titik terpencil yang sulit dijangkau jika terjadi kebakaran hutan dalam skala besar.
Rangkaian apel kesiapsiagaan ini ditutup dengan pembunyian sirine kebencanaan secara serentak. Simbol ini menjadi penanda dimulainya periode siaga nasional dalam menghadapi potensi dampak perubahan iklim di tingkat daerah.