KALIMANTAN SELATAN — Meta Platforms menerbitkan obligasi baru senilai USD15 miliar (sekitar Rp270 triliun) untuk membiayai infrastruktur kecerdasan buatan yang terus membengkak. Langkah ini menambah tumpukan utang perusahaan induk Facebook dan Instagram tersebut menjadi USD83,67 miliar (sekitar Rp1.500 triliun) per 30 September.
Penawaran obligasi terbaru Meta mencakup surat utang senilai USD3,25 miliar yang jatuh tempo pada 2031, serta obligasi dengan nilai serupa yang jatuh tempo pada 2033. Struktur tenor menengah ini memberi perusahaan ruang refinancing di tengah lonjakan belanja modal AI.
Data LSEG mencatat total utang Meta sudah mencapai USD83,67 miliar atau setara Rp1.500 triliun per 30 September. Angka itu menempatkan Meta sebagai salah satu pembelanja terbesar di industri teknologi global untuk infrastruktur komputasi.
Meta tidak sekali ini saja memanfaatkan pasar utang. Pada April, perusahaan menjual obligasi layak investasi (investment-grade) senilai USD25 miliar. Sebelumnya, Meta juga menerbitkan penawaran senilai USD30 miliar pada tahun lalu.
Dengan penawaran terbaru USD15 miliar, Meta mengumpulkan hampir USD70 miliar dari pasar obligasi dalam periode yang relatif singkat. Pola ini menunjukkan pergeseran strategi pendanaan dari kas internal ke leverage utang.
Dana hasil penawaran obligasi akan dipakai membiayai investasi pada infrastruktur AI yang meningkat. Meta memang berlomba dengan Microsoft, Alphabet, dan Amazon dalam membangun pusat data berkapasitas besar untuk melatih dan menjalankan model AI.
Perlombaan ini menuntut belanja modal besar yang tidak selalu bisa ditutup dari arus kas operasional. Pusat data AI membutuhkan GPU, sistem pendingin, dan pasokan listrik dalam skala yang jauh di atas server konvensional.
Bagi investor obligasi, kualitas kredit Meta masih di kategori layak investasi. Arus kas dari iklan digital Facebook dan Instagram menjadi penopang utama kemampuan bayar bunga dan pokok utang.
Penerbitan utang baru menambah beban bunga yang harus ditanggung Meta ke depan. Namun selama pendapatan iklan tumbuh, dampak ke laba bersih per saham masih bisa dikelola.
Yang perlu dicermati investor adalah disiplin belanja modal. Jika investasi AI tidak segera menghasilkan pendapatan, tekanan pada margin dan arus kas bebas bisa membesar. Sebaliknya, jika monetisasi AI berjalan sesuai rencana, utang ini berfungsi sebagai akselerator pertumbuhan.
Pasar obligasi korporasi teknologi juga akan menyerap pasokan baru dalam jumlah besar. Ini bisa mempengaruhi yield obligasi emiten teknologi lain yang sedang menggalang dana untuk kebutuhan serupa.